Sejarah Suku Kelabit Di Kalimantan

Sejarah Suku Kelabit ~ Suku bangsa Kelabit mungkin masih bagian dari kelompok suku bangsa Murut sehingga digolongkan para ahli ke dalam kelompok Kelabitik-Murut. Pusat pemukiman mereka mungkin di dataran tinggi Kelabit-Kerayan di Kalimantan Barat. Di daerah asalnya, mereka belum mengenal perahu. Pemukimannya pun tidak dekat sungai seperti umumnya Dayak lain. Sekarang sebagian dari mereka mendiami daerah perbatasan Indonesia dengan Serawak dan Sabah (Malaysia), dan juga di wilayah kerajaan Brunei Darussalam.


Di Kalimantan Barat mereka berdiam di hulu Sungai Bahau, sebelah timur hulu sungai Mentarang, dan sebelah timur laut Sungai Kemaloh, Sungai Raya dan Sungai Sesayap. Di wilayah Sarawak mereka berdiam di dekat hulu Sungai Baram dan Tutoh, bagian tengah Sungai Limbang, di sekitar Lembah Trusan, Damit dan Lawas. Di Brunei Darussalam mereka mendiami beberapa kampung sepanjang sungai Temburong dan Pandaraun. Di Sabah mereka mendiami daerah Ulu Padas dan Megalong.

Bahasa Kelabit memiliki beberapa dialek, namun termasuk ke dalam kelompok bahasa Kelabitik-Murut. Seperti halnya orang Kayan, Kajang dan Kenyah, orang Kelabit juga hidup dari perladangan tebang bakar dan pindah-pindah. Akan tetapi dibandingkan dengan Dayak lain suku bangsa ini sudah lebih dulu mempraktikkan pertanian irigasi, serta pemeliharaan ternak babi dan sapi. 

Baca juga Suku Lainnya Di Kalimantan :
Musim berladang atau bersawah ditentukan oleh pemahaman tentang gejala perpindahan burung-burung. Mereka juga memproduksi garam dari sumur-sumur alam yang terdapat di daerah mereka. Pemukiman mereka di Kelabit-Kerayan cukup terisolasi, mungkin yang menyebabkan mereka tidak mengenal penempaan besi. Peralatan besi terpaksa mereka peroleh dengan barter dari suku bangsa tetangganya. Surplus pertanian irigasi serta produksi garamnya membuat orang Kelabit tidak terlalu tergantung kepada suku bangsa tetangganya.

Dalam kehidupan sosialnya dikenal pula sistem stratifikasi. Setiap orang bisa menaikkan status sosialnya dengan beberapa syarat, dan mengganti namanya pada setiap perubahan status. Mereka mengembangkan adat mencacah kulit (tatto), serta memiliki tradisi megalitik. Kaum wanita suka memakai hiasan ikat kepala yang ditata dengan manik-manik beraneka warna. Perkawinan dengan saudara sepupu sampai tingkat ketiga dilarang. Pola menetap setelah kawin biasanya uksorilokal. Ikatan kekerabatan mereka anggap penting artinya untuk pengerahan tenaga kerja. [Suku Dunia]
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Kelabit Di Kalimantan Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Kelabit Di Kalimantan Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya