Sejarah Suku Karo Di Sumatera

Sejarah Suku Karo ~ Orang karo atau Batak karo adalah salah satu sub-suku bangsa Batak. Mereka mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu dan sebagian daerah Dairi. Wilayah mereka sekarang termasuk bagian dari Kabupaten Karo. Jumlah populasinya sekitar 300.000 jiwa mendiami daerah seluas kira-kira 5.000 kilometer persegi. Menurut sensus tahun 1930 orang Karo berjumlah sekitar 120.000 jiwa, pada sensus tahun 1963 menjadi sekitar 154.000 jiwa dan pada tahun 1972 berjumlah sekitar 370.000 jiwa. Sekarang diperkiraan hampir satu juta jiwa, termasuk orang Karo yang tersebar di berbagai daerah.


Desa orang Karo disebut kuta, yaitu kesatuan teritorial-genealogis yang dihuni oleh beberapa klen (merga). Rumah adat Karo berbentuk panggung dengan dinding miring. Atapnya bertingkat tiga dan berbentuk segitiga. Pembagian yang serba tiga ini melambangkan adanya ikatan sangkep sitelu (tiga yang utuh). Satu rumah adat biasanya dihuni oleh 8 keluarga inti (jabu) patrilineal, atau lebih sedikit lagi. Oleh karena itu rumah adat Karo disebut juga siwaluh jabu (siwaluh = delapan). Kebanyakan rumah mempunyai hiasan cecak, yang dipercaya sebagai penolak bala. Pada puncaknya sering dipasang kepala kerbau sebagai lambang kesejahteraan bagi penghuninya. Orang Karo hidup dari mata pencaharian sebagai petani di sawah. Sebagian lain juga berladang tembakau, kopi, sayur dan buah-buahan relatif tetap. Dalam berternak mereka memelihara kerbau dan babi. Kerbau dimanfaatkan untuk membajak, sedangkan babi untuk keperluan pesta dan upacara adat.

Kekerabatan, Kekeluargaan dan Kemasyarakatan Suku Karo

Hubungan kekerabatan orang Karo dihitung menurut garis pihak laki-laki, atau prinsip patrilineal, kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang lazim disebut jabu atau sada bapa (satu ayah). Yang kedua adalah yaitu gabungan beberapa jabu yang disebut sada nini, yaitu kelompok yang berasal dari satu kakek atau satu moyang yang masih dapat diketahui garis silsilahnya. Kelompok kekerabatan yang tersebar adalah merga atau klen. Ada lima merga besar di Karo, yaitu Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring dan Tarigan. Kemudian ada lagi yang bernama Bangun, Munte, Sibero dan sebagainya.

Baca juga Suku Lainnya Di Sumatera :
Struktur sosial desa Karo ditentukan oleh prinsip adat yang disebut Sangkep Sitelu (tiga yang uluh) yang dalam bahasa Batak Toba disebut Dalihan Na Tolu. Maksudnya setiap hubungan adat ditentukan oleh adanya tiga kelompok kerabat karena hubungan darah dan perkawinan, yaitu kelompok kerabat sendiri (senina atau dongan tubu), kelompok pemberi gadis (kalimbubu atau hula-hula), dan kelompok penerima gadis (anakberu atau boru).

Kalimbubu selalu memilik kedudukan lebih tinggi dari pada anakberu, sehingga sebagai anakberu seseorang harus bersikap hormat kepada kaum kerabat isterinya. Ketiga kelompok akan bekerja sama dalam penyelenggaraan berbagai upacara adat, seperti perkawinan, kematian, penyelesaian pertikaian. Struktur sosial di atas berpangkal dari adat perkawinan pada masyarakat Karo yang bersifat eksogami klen dan memiliki struktur hubungan yang bersifat asymmetrical connubium, yaitu pertukaran wanita tidak terjadi secara timbal balik antara dua kelompok kerabat, melainkan bergerak ke kelompok lain.

Karena itu diperlukan paling tidak tiga klen. Prinsip adat demikian pula yang menentukan sistem kepemimpinan adat orang Karo. Kuta (desa) dipimpin oleh anggota tertua dari merga keturunan pendiri kuta (bangsa taneh). Kepala kuta disebut Penhulu, yaitu jabatan turun-temurun menurut garis anak laki-laki tertua. Penghulu dibantu oleh seorang anakberu dan seninanya.

Dalam satu kuta mungkin saja terdapat lebih dari satu bangsa taneh, sehingga kuta dibagi atas beberapa bagian (kesain). Masing-masing dengan pemimpin sendiri, yaitu penghulu kesain beserta anakberu dan seninanya. Apabila ada masalah-masalah adat yang harus disidangkan, maka yang memimpin adalah penghulu kesain tertua menurut sejarah berdirinya kesain. Balai adat desa (bale kuta) didirikan di kesain tertua. Pada masa sekarang ketentuan adat tersebut sudah hampir hilang digantikan oleh aturan pemerintahan nasional.

Agama Dan Kepercayaan Suku Karo

Religi asli Karo yang disebut perbegu berdasarkan kepada pemujaan terhadap roh (begu). Roh kerabat pihak ayah dan pihak ibu dianggap sebagai roh pelindung. Hubungan dengan para roh harus dijaga baik melalui upacara bersaji. Selain begu, orang Batak mengenal dua konsep lain, yaitu tondi (jiwa orang hidup) dan sumangat (kekuatan gaib yang berbeda-beda antara orang yang satu dan lainnya). Sumangat seorang datu, misalnya lebih banyak dan lebih kuat dari pada sumangat orang biasa.

Pada masa sekarang kebanyakan orang Karo sudah memeluk agama Kristen Protestan dan Katolik. Di zaman dulu nenek moyang mereka pernah mengembangkan kepercayaan animisme yang berorientasi kepada pemujaan roh (jiwa orang mati) dan kepercayaan yang politeisme sifatnya. Kepercayaan politeisme itu meyakini adanya sejumlah dewa. Di antaranya terpenting adalah tokoh Dewa Tertinggi yang mereka sebut Dibata Kaci-kaci atau Dibata Yang Satu.

Selain itu ada tiga tokoh dewa yang dianggap menguasai ketiga lapisan dunia. Pertama yang disebut Guru Butara Atas atau Dibata Atas yang menguasai dunia lapisan atas. Kedua, Tuhan Paduka Ni Aji atau Dibata Tengah, yaitu penguasa dunia lapisan tengah. Ketiga Tuhan Banua Kaling atau Dibata Bawah, yaitu penguasa dunia lapisan bawah. Di samping itu adalah penguasa matahari (Ninimataniari) dan penguasa bulan serta pelangi (Beru Dayang). Upacara-upacara pemujaan dipimpin adalah seorang syaman wanita yang disebut guru si baso. [Suku Dunia]
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Karo Di Sumatera Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Karo Di Sumatera Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya