Suku Dunia ~ Suku bangsa ini mendiami daerah pesisir selatan Papua, yaitu di sebelah timur wilayah suku bangsa Asmat, di sebelah timur Senggo, di sebelah timur laut Pirimapun. Daerah mereka termasuk ke dalam wilayah Kouh, Merauke, Provinsi Papua Barat. Jumlah populasinya sekitar 1.000 jiwa. Desa-desa mereka antara lain Uni, Fifiro, Wanggemalo dan Karuwakhe.
Mungkin masih satu kelompok asal dengan suku bangsa Muyu, terutama dilihat dari sistem mata pencaharian, logat bahasa, dan adat istiadatnya yang banyak persamaan. Orang Kombai dianggap sering berpindah-pindah, karena itu mereka mungkin tidak mengenal perkampungan yang permanen.
Mata Pencaharian Suku Kombai
Untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, orang Kombai bekerja meramu sagu yang tumbuh liar dalam hutan. Akan tetapi mereka juga mengembangkan kegiatan berladang di lahan kering. Sistem perladangan mereka bersifat tebang-bakar dan berpindah jika lahannya tidak subur lagi. Tanaman pokoknya adalah ubi jalar, disamping pisang dan tebu.
Rumah-rumah orang Kombai didirikan di tengah perladangan mereka. Untuk keamanan perladangan itu biasanya didirikan mengelompok. Rumah-rumah itu biasanya dibangun di atas pohon setinggi 2-4 meter dari tanah. Untuk naik ke atas rumah mereka membuat tangga dari sebatang pohon yang diberi lubang sebagai tempat pijakan kaki. Pada malam hari tangga itu dinaikkan dan disimpan di teras rumah.
Mata pencaharian lain adalah berburu biawak, buaya, babi hutan, kangguru, burung, dan menangkap ikan. Babi juga dipelihara sebagai hewan yang berharga sebagai salah satu simbol kekayaan dan mas kawin. Babi yang sudah besar dilepas di hutan setelah terlebih dahulu diberi tanda pada kupingnya. Jika pemiliknya memerlukan seekor babi, ia dapat berburu ke hutan, namun harus memperhatikan bahwa babi yang ditangkapnya bukan milik orang lain.
Rumah-rumah orang Kombai didirikan di tengah perladangan mereka. Untuk keamanan perladangan itu biasanya didirikan mengelompok. Rumah-rumah itu biasanya dibangun di atas pohon setinggi 2-4 meter dari tanah. Untuk naik ke atas rumah mereka membuat tangga dari sebatang pohon yang diberi lubang sebagai tempat pijakan kaki. Pada malam hari tangga itu dinaikkan dan disimpan di teras rumah.
Mata pencaharian lain adalah berburu biawak, buaya, babi hutan, kangguru, burung, dan menangkap ikan. Babi juga dipelihara sebagai hewan yang berharga sebagai salah satu simbol kekayaan dan mas kawin. Babi yang sudah besar dilepas di hutan setelah terlebih dahulu diberi tanda pada kupingnya. Jika pemiliknya memerlukan seekor babi, ia dapat berburu ke hutan, namun harus memperhatikan bahwa babi yang ditangkapnya bukan milik orang lain.
Baca juga Suku Lainnya Di Papua :
- Sejarah Suku Nayak
- Sejarah Suku Nduga
- Sejarah Suku Asmat
- Sejarah Suku Lani
- Sejarah Suku Yali
- Sejarah Suku Kapauku
Kekeluargaan Dan Kemasyarakatan Suku Kombai
Keluarga inti muda lebih suka tinggal mengelompok dalam lingkungan keluarga asalnya, sehingga terbentuk suatu klen kecil menurut garis keturunan patrilineal. Beberapa klen kecil mengelompok menjadi satu klen besar yang disebut nuwabit. Kesatuan teritorial-genealogis ini memiliki pimpinan dan panglima perang atau kepala adat yang disebut kajepak.
Agama Dan Kepercayaan Suku Kombai
Religi asli orang Kombai berorientasi kepada keyakinan tentang adanya roh-roh leluhur dan roh-roh jahat yang mempengaruhi kehidupan manusia. Roh yang paling berkuasa adalah Rebabu. Kemudian ada roh yang dianggap makhluk pertama yang turun dari langit yang disebut Sanolare, roh penguasa tanah atau bumi (Arebyryro). Roh yang dianggap jahat dan ditakuti adalah roh orang yang mati tak wajar, disebut kwai. Ada pula makhluk halus yang digunakan oleh dukun-dukun untuk mencelakakan orang lain, disebut maumau dan suangdi.
loading...
0 Response to "Sejarah Suku Kombai Di Papua Barat"
Post a Comment