Sejarah Suku Nayak Di Papua

Suku Dunia ~ Suku Nayak menempati wilayah di lembah Baliem sekitar kota Wamena ke arah Gunung Trikora. Sebagian besar mata pencaharian suku Nayak adalah sebagai petani ubi dan keladi. Makanan pokok mereka adalah ubi, sayur, dan babi, yang dimasak dengan cara ditimbun dengan batu panas. Terdapat pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki memiliki tugas membuat pagar, mencari kayu bakar atau berburu, dan membuka hutan menjadi ladang-ladang pertanian. Sedangkan penanaman dan pemeliharaan tanaman yang lebih memerlukan kepekaan perasaan terhadap alam menjadi tugas kaum wanita.


Pembagian tugas ini juga dapat dilihat dalam permukiman mereka. Tugas membuka hutan menjadi permukiman, membangun rumah, dan menjaga ketenteramannya adalah tugas kaum laki-laki. Sedangkan memelihara hunian seisinya, termasuk menumbuh kembangkan generasi penerus adalah tugas kaum wanita. Suku Nayak tinggal dalam kelompok-kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam sebuah usilimo atau sili. Beberapa sili yang berdekatan biasanya memiliki kedekatan hubungan kekerabatan.

Kelompok sili yang terbentuk karena hubungan darah atau yang terbentuk atas dasar persatuan teritorial dan politik membentuk kampung. Kampung dipimpin oleh seorang Kepala Suku yang didampingi oleh seorang Panglima Perang. Pentingnya kedudukan Panglima Perang dalam struktur kehidupan masyarakat Nayak menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai gangguan atas ketenteraman yang mereka bina dalam lingkungannya. Hal ini karena mereka tinggal di daerah hutan dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Gangguan itu bisa datang dari binatang buas, bencana alam, atau kelompok manusia lain.

Perang (wim abiyokoi) merupakan salah satu wujud tingginya tingkat kewaspadaan masyarakat hutan Baliem terhadap pelanggaran norma-norma adat suatu suku oleh kelompok lain. Penghargaan yang tinggi terhadap panglima perang yang sudah meninggal dan dipandang berjasa besar diwujudkan dengan mengawetkan jasad mereka dalam bentuk mumi. Honai mencerminkan bagaimana cara hidup suku Nayak. Satu honai biasanya dihuni oleh maksimal 10 orang, yang terdiri atas satu pria kepala rumah tangga dan beberapa isteri. Banyaknya isteri bergantung pada banyaknya babi yang dimiliki si pria. Karena babi adalah lambang kemakmuran dan mas kawin suku Nayak.

Setiap Sili atau usilimo terdiri atas beberapa kelompok honei, yaitu honei laki-laki (pilamo), honei wanita (ebe-ae/enai), dapur (hunila/hunu) dan kandang babi (wam dabula). Honei berasal dari kata hun yang berarti laki-laki dewasa, dan ai yang berarti rumah. Honei adalah sebutan umum untuk rumah. Sangat boleh jadi penyebutan dengan mengetengahkan unsur laki-laki dewasa itu menunjukkan unsur kepemilikan atau kepala keluarga. Untuk mempertegas eksistensi laki-laki sebagai kepala keluarga, benda-benda berharga termasuk harta benda dan pusaka turun temurun (misalnya jimat/kaneke, kalung, untaian kerang/jetak eken atau walimo eken, dan mikhak) disimpan di dalam pilamo. Kadang-kadang babi pun dimasukkan dalam pilamo karena babi juga merupakan harta berharga perlambang status sosial dan simbol yang dipakai dalam upacara adat.

Rumah wanita (biasanya dihuni oleh seorang ibu, anak-anak dan kerabat wanitanya) disebut ebe-ae atau ebai. Ebe artinya tubuh dalam arti hadir, tetapi juga bermakna utama, pusat, sentral. Di ruang pusat atau utama inilah awal mula proses kehadiran atau kelahiran serta penumbuhkembangkan generasi penerus, yaitu dengan memberi dua puluh ekor babi. Babi dalam masyarakat Nayak adalah lambang kekayaaan, dan dua puluh ekor babi bukan jumlah sedikit. Mungkin karena itu laki-laki Nayak merasa berhak melakukan apapun terhadap isterinya jika telah memberikan dua puluh ekor babi.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka menggunakan alat seperti pisau (pisok), parang (karok), kampak (posie), panah/busur (sike lisuok), sekop (sabuk), dan tombak (sege). Dalam hal kesenian. Suku Nayak mengenal aturan yang biasa diberlakukan pada masyarakatnya. Kalau mencuri babi 1 ekor akan didenda 10 babi, kalau membunuh 1 orang harus didenda babi 20 ekor. Orang yang berhak memutuskan adalah ketua adat. Terdapat kebiasaan yang unik pada masyarakat Nayak.

Apabila ada yang meninggal maka pihak keluarganya ada yang dipotong jarinya. Mayatnya dengan cara dibakar dengan kayu bakar, abunya disimpan di depan rumah. Orang yang dipotong jari adalah anak yang paling besar, dipotong dengan menggunakan parang. Obatnya pakai rumput pawi dan hulika. Dalam pernikahan, kalau pihak laki-laki tidak mampu melamar dengan memberi babi 20 ekor pada pihak perempuan, maka dia menunggu pihak perempuan yang melamar. Pada waktu hari pernikahan, pihak laki-laki harus mencari kayu bakar, sedangkan pihak perempuan mencari ubi kemudian dibakar. Meskipun setelah menikah, pengantin perempuan tidak di honai, tetapi di rumah. Honai hanya untuk laki-laki.

Pada suku Nayak masih banyak laki-laki yang mengenakan koteka yang terbuat dari kunden kuning, sedangkan para wanita menggunakan pakaian wah yang berasal dari rumput atau serat. Upacara-upacara besar dan keagamaan, perang suku masih dilaksanakan (walaupun tidak sebesar sebelumnya). Walaupun mereka menerima Agama Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang mereka. Kepercayaan leluhur mereka adalah alawene oan kigidekma.

Upacara peperangan dan permusuhan biasanya melintasi daerah perbatasan, wanita, pencurian babi, dan masalah-masalah kecil lainnya. Para prajurit memberi tanda juga terhadap mereka sendiri dengan babi lemak, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah dari pohon mangga dan bunga-bungaan, mempersenjatai diri sendiri dengan tombak, busur, dan anak panah.

Di dalam masyarakat Suku Nayak jika salah seorang menjadi manusia buangan karena melanggar tabu, ia biasanya dihina atau diejek oleh warga yang lain pada pertemuan adat, ia harus membayar denda. Sambil mereka bekerja di ladang atau pergi berburu mereka bernyanyi ekspresi heroik atau kisah yang menyedihkan. Upacara bakar batu biasa dilaksanakan pada acara pernikahan, peresmian honai baru. Pada waktu kelahiran anak, di honai perempuan dan perempuan yang sudah berpengalaman, atau dukun beranak (iruklasin). Syukurannya potong babi dan makan bersama. Jika ada anak kembar, salah satunya harus dibuang karena sesuai adat suku Nayak, mereka memgannggap salah satu anak kembar tersebut adalah anak setan.
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Nayak Di Papua Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Nayak Di Papua Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya