Sejarah Suku Nduga Di Papua

Suku Dunia ~ Suku Nduga menempati kawasan pegunungan tengah bagian selatan. Mata pencaharian suku Nduga ini adalah petani ubi, keladi dan ternak babi. Saat ini suku Nduga secara administratif masuk pada kabupaten Nduga yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya, Ibukota Kabupaten Nduga adalah Tiom. Terdapat beberapa kesamaan bahasa antara bahasa Nduga, Nayak, Lani, dan Yali. Misalnya, kata an yang berarti saya, atau bahasa Arab menjadi ana, wam artinya babi, dan ap artinya laki-laki.


Orang Nduga percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Seinma yaitu suatu kampung di Kurima. Masyarakat Nduga dibedakan atas masyarakat yang berdiam di daerah panas seperti di Mapnduma, daerah pertengahan seperti di Mbua, dan masyarakat di daerah dingin sepert di Yigi. Pada masyarakat Nduga memiliki kebun tersendiri, daerah perburuan dan lahan pandan sendiri. Kaum lelaki memiliki rumah tersendiri, yaitu rumah lelaki. Kekerabatan adalah orang yang memiliki pertalian darah. Aliansi adalah kelompok kerja sama di dalam perang. Msyarakat Nduga memiliki paruhan masyarakat (moieties) yaitu wandikbo dan Gwijangge. Orang Wandikbo boleh mengawini perempuan-perempuan Gwanjiangge begitu juga sebaliknya. Tetapi tidak boleh kawin dalam satu paruhan.

Osiri adalah suatu kampung atau rumpun keluarga. Setiap osiri memiliki pemimpin masing-masing. Pemimpin mereka apnoe dan ap nggak dan panglima perang yaitu wimbo atau ndugur. Seorang pemimpin adalah sesorang yang memiliki daya tarik dan orang yang pandai berbicara, seorang yang dapat memimpin perang. Seorang ap nggok tidak dapat diganti. Jika tingkah lakunya buruk, rakyat tidak akan mematuhinya. Ap nggok menentukan peperangan dan mengatur upacara penobatan (liwitmbaruge). Ia pun termasuk orang kaya yang mempunyai banyak babi dan kerang. Ia membayar keluarga yang anggotanya gugur dalam perang, dengan memakai babi, kampak batu, dan kerang-kerangan. Wimbo adalah panglima perang, tugas seorang wimbo adalah memilih seorang prajurit yang memiliki mental kuat terhadap musuh dan memiliki kaki yang kekar dan mengatur strategi dan memimpin perang dari depan, tengah dan belakang.

Kwalmbo bertanggung jawab terhadap penyembuhan dan memimpin upacara adat yang berkaitan dengan peristiwa penyembuhan. Dan juga upacara pembukaan kebun baru atau upacara panenan. Pada upacara panen, kwalembo mengucapkan kata-kata suci (wusama) kepada noken-noken yang penuh berisi ubi. Kaum laki-laki bertugas membuat pagar, membangun rumah, menggemburkan tanah, membunuh babi, pergi berperang dan berburu. Kaum perempuan bertugas memelihara kebun, mengasuh anak, menjaga babi, menanam ubi, menganyam noken dan memasak.

Pernikahan Dalam Suku Nduga

Dalam pernikahan, lelaki memilih perempuan berdasarkan pada kemampuan mereka dalam berkebun dan memelihara babi. Kaum perempuan menyukai laki-laki yang rajin dan bernyanyi dengan baik. Orang tua wanita senang apabila menantunya orang kaya, dalam arti memiliki banyak babi. Pada masyarakat Nduga terdapat empat macam perkawinan yaitu :
  1. Perkawinan yang disepakati (kwemin apmin indimsigat)
  2. Perkawinan yang tanpa kesepakatan pihak orang tua (kwenbalukbriknak)
  3. Perkawinan yang diatur oleh orang tua kedua belah pihak (itja nen lidludtakpidnak)
  4. Perkawinan sebagai akibat guna-guna (nggawusawaniknakwee)
Jika seorang perempuan tidak menyukai seorang laki-laki sebaliknya sang lelaki tidak menyukai perempuan, maka ada jenis daun yang dapat menarik hati yang bersangkutan. Daun-daun itu disebut kulalok, nabisinggi, kwelbe. Daun tersebut di ambil di puncak Trikora. Maskawin masih tetap berlaku di antara masyarakat Nduga. Tingginya nilai maskawin ditetapkan menurut permintaan orang tua wanita, antara lain 5 ekor babi (wam) atau kurang dari itu 3-5 tali kulit kerang cowrie (ijebasik), 1-2 buah kulit kerang besar (tol), 2-5 bah kapak batu (wanggokme), dan 1-2 lempeng tembakau (ebekanem).

Penghidupan sehari-hari masyarakat Nduga diperoleh melalui hasil perladangan, perburuan dan pemeliharaan babi. Kebanyakan orang Nduga tidak menerapkan ekonomi dengan memakai uang tunai. Makanan mereka adalah ubi, keladi, tebu, pisang, sayur lilin, daun ubi, kacang buncis. Babi bernilai tinggi pada budaya suku Nduga. Babi digunakan antara lain untuk maskawin dan pembayaran-pembayaran denda atau karena sebab-sebab perang. Babi hidup bersama manusia di dalam rumah dan diperlakukan sebagai bagian dari keluarga. Babi menjadi lambang kemakmuran dan prestise bagi suku Nduga.
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Nduga Di Papua Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Nduga Di Papua Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya