loading...

Sejarah Suku Gorontalo

Sejarah Suku Gorontalo ~ Jumlah populasi suku Gorontalo lebih kurang 300.000 jiwa. Bahasa Gorontalo sendiri terbagi menjadi beberapa dialek, seperti dialek Limboto, Tilamuta, Kwandang, Sumalata, dan Suwawa.


Bahasa Gorontalo menjadi dominan ketika wilayah ini pernah berdiri kerajaan Gorontalo. Menurut mitologi rakyat Gorontalo leluhur mereka adalah keturunan dari Hulontalangi (orang yang turun dari langit) yang berdiam di Gunung Tilongkabila. Bagian lain daerah Gorontalo pada masa itu masih berupa laut. Nama hulontolangi kemudian berubah menjadi hulontalo, dan akhirnya menjadi Gorontalo. Pada zaman dulu di daerah ini pernah berkembang enam buah kerajaan, yakni Gorontalo, Limboto, Suwawa, Tapa, Atinggola dan Boalemo.

Bahasa Suku Gorontalo

Bahasa Gorontalo terbagi menjadi tiga dialek, yaitu dialek Gorontalo, Bolango dan Suwawa. Nampaknya dialek Gorontalo lebih banyak digunakan sebagai bahasa perantara. Bahasa Gorontalo bagian timur terbagi pula menjadi dua dialek, yaitu dialek Bolaang Uki dan dialek Kaidipang. Sedangkan bahasa Gorontalo di bagian barat terdiri atas tiga dialek, yaitu dialek Gorontalo, Bone, dan Buol. Sementara itu dialek Gorontalo masih terbagi lagi menjadi logat Gorontalo, Limboto, Tilamuta, sumalata, dan Kwandang.

Mata Pencaharian Suku Gorontalo

Penduduk Gorontalo mata pencahariannya umumnya dari bertani di sawah dan ladang. Tanaman yang umum mereka kembangkan adalah padi, jagung, Ubi, sayur-sayuran, kelapa, dan buah-buahan. Penduduk yang berdiam di tepi Danau Gorontalo atau di pesisir pantai mengutamakan mata pencaharian sebagai nelayan. Sementara itu orang Gorontalo banyak pula yang bergerak di bidang perdagangan, pegawai negeri swasta, dan lain-lain.

Baca juga Suku Lainnya Di Sulawesi :

Masyarakat Suku Gorontalo

Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu dan anak-anak sekandung disebut dengan istilah ngala'i. Kelompok kekerabatan yang terpenting zaman dulu adalah keluarga luas yang disebut ungala'a. Peranan keluarga luas tersebut terutama sekali di berbagai kegiatan upacara lingkaran hidup. Keluarga-keluarga inti yang menjadi bagian dari sebuah ungala'a berdiam di rumah-rumah yang dibangun berderet-deret. Prinsip keturunan orang Gorontalo umumnya parental dan sistem kekerabatannya bersifat bilateral. Desa tradisional di Gorontalo disebut kambungu. Penduduk petani ini biasanya memiliki sebuah rumah (bele) di kambungu, dan sebuah lagi di ladang untuk musim tanam. Rumah di perladangan disebut wombohe. Setiap kambungu memiliki sebuah balai musyawarah adat yang disebut bandayo.

Struktur pemerintahan tradisional Gorontalo disebut Buatula Toulongo. Sistemnya terbagi atas tiga bidang, yaitu bidang pemerintahan (buatula-bantayo), keamanan (buatulapabuwa), dan keagamaan (buatula syara'). Bidang pemerintahan dan keamanan biasanya ditunjuk dan diangkat  oleh raja. walaupun pada masa sekarang struktur tersebut tidak ada lagi, tetapi pemuka agama dan pemuka adat tersebut tetap dibutuhkan dalam lembaga musyawarah masyarakat desa setempat. Pada zaman kerajaan Gorontalo dulu sistem pelapisan sosial masyarakatnya cukup tajam, karena ada golongan raja-raja dan keturunannya yang disebut olongiva. Golongan bangsawan pembantu raja yang disebut wali-wali. Lalu golongan rakyat biasa yang disebut tuwangolipu. Kemudian ada pula golongan budak atau hamba sahaya yang disebut wato.

Agama Dan Kepercayaan Suku Gorontalo

Agama Islam masuk ke wilayah Gorontalo sejak tahun 1566 dan menjadi agama resmi kerajaan-kerajaan yang ada pada masa itu. Sampai sekarang orang Gorontalo umumnya memeluk agama Islam. [Suku Dunia]
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Gorontalo Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Gorontalo Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya