loading...

Sejarah Suku Buton

Suku Dunia ~ Orang Buton atau Butung mendiami pulau Buton atau Pulau Butung yang terletak di sebelah selatan jazirah Sulawesi bagian Tenggara. Secara administratif berada dalam wilayah Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Orang Buton dikenal sebagai salah satu suku bangsa perantau. Banyak di antara mereka yang tersebar sampai ke Sabah (Malayisa), Pulau Seram, dan Maluku Utara. Mereka memang terkenal sebagai pelaut dan pedagang yang ulet. Populasinya sekarang sekitar 400.000 jiwa.

Bahasa Suku Buton

Bahasa Buton digolongkan ahli etnolinguistik klasik, Esser, ke dalam kelompok Muna-Butung. Bahasa Buton terbagi ke dalam beberapa dialek, seperti dialek Butung, Wolio, Wapacana, Cia-Cia, dan Wakatobi. Kemudian semua dialek itu terbagi-bagi lagi ke dalam lebih kurang 22 buah sub-dialek.

Mata Pencaharian Suku Buton

Orang Buton kebanyakan hidup sebagai petani ladang dengan tanaman pokok jagung dan ubi, padi juga ditanam tetapi masih sedikit. Tanaman untuk perdagangan yang mereka tanam antara lain jeruk, kapuk dan kelapa. Orang Buton sebenarnya terkenal pula sebagai pengrajin barang-barang dari kuningan, pertukangan perahu kayu, menganyam barang dari rotan dan pandan, serta bertenun kain tradisional.

Baca juga Suku Lainnya Di Sulawesi :

Masyarakat Suku Buton

Pada zaman dulu Pulau Buton berada di bawah kekuasaan Kesultanan Wolio-Buton. Daerah Kesultanan ini meliputi Pulau Muna, Tukang Besi, Selayar, Kabaena, dan Womui. Daerah-Daerah kekuasaannya dibagi ke dalam distrik-distrik tradisional yang biasa dikepalai masing-masing oleh seorang bonto atau bobato. Di bawahnya terdiri dari desa-desa yang biasanya dikepalai oleh seorang Kepala Desa dibantu oleh sebuah dewan tradisional. Pada zaman dulu golongan bangsawan keturunan raja-raja disebut golongan kaomoe, sementara golongan bangsawan pembantu raja disebut walak, dan rakyat, maradika.

Orang Buton umumnya memeluk agama Islam. Mereka menerapkan aturan-aturan kehidupan sosial berpedoman kepada hukum Islam, begitu juga dalam hal penyelenggaraan perkawinan. Sistem garis keturunan di masyarakat Buton adalah patrilineal. Di dalam penyelenggaraan acara perkawinan pihak laki-laki harus menyerahkan sejumlah mas kawin kepada pihak wanita sesuai derajat sosial pihak wanita yang akan dinikahinya. Mereka juga memberlakukan larangan kawin dengan saudara sepupu satu kali. Setelah menikah keluarga baru tersebut bertempat tinggal secara uksorilokal, dan selanjutnya setelah mereka mempunyai anak pertama, keluarga tersebut membentuk tempat menetap yang baru.
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Buton Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Buton Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya