Sejarah Suku Abung Di Sumatera

Suku Dunia ~ Suku Abung ini sering juga disebut dengan nama Abung Bunga Mayang. Jumlah populasinya sekitar 30.000 jiwa. Mereka berdiam disekitar wilayah-wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Sebagian lain berdiam di wilayah Provinsi Lampung, yaitu disekitar Sungai Tulang Bawang dan Danau Ranau.

Bahasa Suku Abung

Bahasa suku Abung termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu dengan dialek sendiri. Kebanyakan orang menggolongkan masyarakat ini sebagai bagian dari suku bangsa Lampung, dimana mereka dipandang sebagai kelompok beradat Abung. Orang-orang beranggapan bahwa orang lampung, Abung, Peminggir dan Pubian pada awalnya sama-sama berasal dari pegunungan Bukit Barisan sebelah barat. Lebih awal lagi mungkin berasal dari Minangkabau.

Orang Abung sendiri beranggapan bahwa mereka berasal dari Sekala Berak, di dataran tinggi Lampung. Pemisahan kelompok terjadi sekitar abad ke-13. Selama masa perpindahan tersebut masing-masing telah mengalami akulturasi dengan kebudayaan melayu dan sinkretisasi dengan agama Islam. Bahasa suku Abung dapat digolongkan sebagai salah satu dialek dari bahasa Melayu. Pada masa dulu mereka memiliki aksara sendiri yang bentuknya sama dengan aksara Batak, atau dengan aksara Rejang, Pasemah dan Lebong yang disebut tulisan ulu.

Mata Pencaharian Utama Suku Abung

Mata pencaharian utama masyarakat suku ini adalah bertanam padi di ladang dan sawah. Selain ditanami padi, ladang mereka juga ditanami lada dan sayur-sayuran. Mata pencaharian tradisional lainnya adalah membuat barang-barang dari tembikar, menganyam rotan, menganyam daun pandan, dan sebagainya.

Sistem Kemasyarakatan Dalam Suku Abung

Perkampungan orang Abung terbagi menjadi dua macam. Pertama adalah kampung permanen yang disebut tiuh, dimana setiap klen yang disebut suku atau buwei, masing-masing memiliki sebuah rumah klen dan sebuah rumah untuk melaksanakan upacara adat (rumah sesat). Kedua adalah pemukiman sementara yang letaknya bertebaran dekat tanah perladangan mereka. Permukiman sementara ini mereka sebut umbu atau umbulan.

Sistem Kekerabatan Dalam Suku Abung

Prinsip hubungan kekerabatan yang mereka pakai sebenarnya adalah patrilineal, karena hak dan kewajiban genealogis diperoleh lewat garis keturunan ayah. Akan tetapi pasangan yang baru kawin mula-mula akan berdiam di lingkungan kerabat isteri (uksorilokal). Setelah anak pertama mereka lahir barulah mereka mendirikan rumah di lingkungan pihak suami (virilokal). Setiap keluarga inti tergabung ke dalam keluarga patrilineal asalnya dan bersama-sama membentuk sebuah klen yang dipimpin oleh seorang kepala yang disebut punyimbang.

Kehidupan masyarakat adat di desa-desa orang Abung zaman dulu sangat tergantung kepada peranan para kepala suku yang disebut punyimbang suku. Para punyimbang ini membentuk organisasi kerapatan adat desa yang dipimpin oleh seorang kepala yang disebut proatin tiuh. Beberapa desa membentuk lagi suatu federasi adat yang disebut marga. Pemimpin marga tersebut pasimarga yang dibantu oleh beberapa orang proatin marga. Menurut banyak ahli sistem pemerintahan tradisional ini sebenarnya bersumber kepada aturan adat. Simbur Cahaya dari zaman Kesultanan Palembang. Sistem ini kemudian diteruskan pada zaman Belanda sampai dengan awal kemerdekaan Indonesia.

Agama Dan Kesenian Dalam Suku Abung

Masyarakat ini umumnya menganut agama Islam. Dalam kesenian mereka mengembangkan tari panguron dan tari randai. Pada zaman dulu juga dikembangkan sebuah tarian perang yang disebut tari tigel. Seni suaranya disebut gardah, yaitu pembacaan syair yang diiringi dengan musik rebana. Mereka pernah pula mengembangkan seni teater rakyat yang disebut dulmuluk.
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Abung Di Sumatera Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Abung Di Sumatera Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya