Sejarah Suku Iban Di Kalimantan

Sejarah Suku Iban ~ Orang Iban dikenal juga dengan sebutan orang Neban, Hivan atau Dayak Laut. Mereka berdiam di sekitar kota Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu. Di Kabupatem Kapuas Hulu mereka berdiam di daerah Embaloh Hilir, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Badau, Empanang, Nanga Kantuk, Lanjak, dan Putusibau.


Di Kabupaten Sintang mereka berdiam dalam Kecamatan Ketungau Hulu. Ketungau Tengah, dan Sepauk. Dalam wilayah Kabupaten Sangau mereka berdiam di Kecamatan Sekayam. Suku bangsa Iban terbagi lagi ke dalam sejumlah sub-suku bangsa seperti Balau, Skrang, Saribas, Undup, Kumpang, Sebuyau, Seru, Empran, Katibas dan Gaat. Sebenarnya masyarakat ini terbagi-bagi lagi menjad sejumlah sub-suku bangsa yang masing-masing mempunyai nama dan dialek sendiri.

Sebagian di antara mereka berdiam di Serawak, bagian wilayah negara Malaysia. Orang Iban termasuk kelompok besar Dayak yang mendiami sebagian besar hulu Sungai Kapuas dengan anak-anaknya Sungai Embaloh dan Sungai Lauh, di sekitar Danau Kapuas, daerah Nanga Badau, Selimbau, Bunut, Putusibau, sampai ke perbatasan dan masuk ke wilayah Serawak, Malaysia.

Menurut sebagian ahli daerah utama pemukiman orang Iban adalah di sekitar Sungai Batang Lupar yang berada di wilayah Serawak dan di sekitar hulu sungai Kapuas bagian utara. pemukiman mereka di wilayah Indonesia termasuk ke dalam Kecamatan Embaloh Hulu, Embaloh Hilir, dan Lanjak di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. sebagian lagi berdiam di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.

Mata Pencaharian Suku Iban

Mata pencaharian pokok masyarakat Suku Iban ini adalah bercocok tanam di ladang. Tanaman mereka adalah padi, ubi-ubian, sayur dan buah-buahan. sebagian dari mereka bekerja meramu hasil hutan, seperti rotan dan damar, atau menebang kayu gelondong untuk dijual. Di antara mereka sekarang sudah banyak pula yang memperoleh pendidikan tinggi, sehingga bisa bekerja di kantor-kantor pemerintah dan swasta di kota-kota.

Kemasyarakatn, Kekerabatan, dan Kekeluargaan Suku Iban

Pemukiman tradisional masyarakat Iban didirikan di sepanjang sungai-sungai besar. Rumah-rumah mereka yang berukuran besar dan panjang, ditopang oleh tiang-tiang kayu tinggi untuk menghindari banjir dan air pasang. Terbentuk dari deretan ruang-ruang keluarga batih. Ruang yang disebut bilek ini jumlahnya kadang kala lebih dari 50 buah, sehingga panjang rumah bisa sampai 150 meter. Rumah panjang semacam itu bisa dianggap sebagai sebuah kampung. Rumah panjang itu dihuni oleh sejumlah keluarga sehingga membentuk komuniti rumah tradisional yang khas. Prinsip kekerabatan mereka ambilineal, akan tetapi suami biasanya tinggal dalam kelompok keluarga isterinya.

Prinsip hubungan kekerabatan orang Iban bersifat ambilineal, di mana sebagian orang menarik garis keturunan melalui pihak ayah dan sebagian orang lainnya melalui pihak ibu. Adat menetap sesudah nikahnya adalah utrolokal, di mana ada yang memilih tinggal di bilek suaminya dan ada yang menetap di bilek isterinya. Pilihan tempat tinggal semacam itu berarti juga menjadi anggota bilek tersebut dengan segala hak dan kewajibannya. Seseorang tidak pernah menjadi anggota dari dua bilek. Anak-anak menjadi anggota bilek di mana ia dilahirkan.

Kesenian Suku Iban

Orang Iban mengembangkan berbagai macam bentuk seni tradisi lisan. Misalnya pantun sindiran yang diungkapkan ketika meminang. Nyanyian pujian kepada dewa atau permohonan berkat (ensemak) ketika membuka ladang atau waktu menanam. Mantra yang diungkapkan dengan lagu oleh dukun untuk mengobati orang yang sedang sakit (mantra balian). Seni berpantun untuk bersenang-senang (didi) dalam pergaulan muda mudi. Selain itu mereka masih mewariskan tradisi lisan berbentuk cerita rakyat. Cerita-cerita disampaikan pada upacara kelahiram, perkawinan, atau kematian. Pakaian dan seni hias tradisional Iban juga dikenal indah-indah, seperti ikat atau tutup kepala, kalung, gelang, ikat pinggang, baju, kain yang tersulam dengan manik-manik dengan motif-motif penuh tata warna.

Agama Dan Kepercayaan Suku Iban

Pada masa sekarang orang Iban sudah banyak yang memeluk agama Kristen. Kepercayaan aslinya meyakini adanya roh-roh dan makhluk gaib penghuni alas semesta yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Upacara-upacara yang mereka lakukan berdasarkan kepercayaan asli juga terlihat pada penyerahan saji-sajian pada tempat-tempat keramat dan benda yang dianggap memiliki kekuatan sakti, misalnya kayu besar, batu besar, hutan lebat. [Suku Dunia]
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Iban Di Kalimantan Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Iban Di Kalimantan Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya