Sejarah Suku Kei

Sejarah Suku Kei ~ Suku bangsa Kei ini mendiami Kepulauan Kei di Laut Arafuru, yang terdiri atas Pulau Nuhucut, Nuhurowa, Kaidullah, Toyandu, Walir dan sejumlah pulau lebih kecil di sekitarnya. Kepulauan ini terbagi menjadi dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kei Besar dan Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.


Mereka juga mendiami sebagian pulau-pulau di Kepulauan Aru dan Tanimbar. Jumlah populasinya sekitar 35.000 jiwa, termasuk yang menetap di berbagai tempat di pesisir Pulau Papua dan Maluku Tengah. Bahasa Kei sekerabat dengan bahasa Fordata yang di gunakan oleh orang Tanimbar. Daratan di Kecamatan Kei Kecil sebagian besar merupakan dataran rendah dan sisanya berupa tanah berbukit dengan ketinggian rata-rata 100 meter di atas permukaan laut. Sebaliknya daratan di wilayah Kecamatan Kei besar terdiri dari tanah berbukit-bukit dan sedikit dataran rendah dengan ketinggian antara 500-800 meter di atas permukaan laut.

Orang Kei sendiri suka menyebut dirinya Evav, artinya "pulau babi". Pendapat lain mengatakan bahwa "Kei" berasal dari bahasa Portugis kayos yang artinya "keras". Mungkin karena pulau-pulau tersebut terbentuk dari batu-batu karang, dan ditumbuhi pula oleh jenis-jenis kayu yang keras. Catatan-catatan prasejarah menunjukkan bahwa Kepulauan Kei pada masa lampau dikunjungi oleh pelaut asing. Bukti-bukti prasejarah sendiri menunjukkan bahwa kepulauan ini pernah dihuni oleh manusia-manusia berkebudayaan sama seperti di Australia bagian utara. Ada pula sisa-sia peninggalan manusia berkebudayaan peralihan dari daratan Asia, antara lain dengan ditemukannya nekara dan kapak upacara dari perunggu di Kepulauan itu.

Mata Pencaharian Suku Kei

Mata pencaharian pokok orang Kei yang terpenting adalah perladangan berpindah dengan tanaman utama ubi singkong (embal), ubi jalar, keladi, kacang-kacangan dan sedikit padi ladang. Makanan pokok mereka pada dasarnya adalah sagu yang diramu dari hutan-hutan basah dekat pesisir. Selain itu mereka juga hidup dari usaha menangkap ikan, mencari teripang, sirip ikan hiu, menyelam mutiara, serta mengusahkan perkebunan kelapa, kopi, jambu, mete, dan cengkeh. Pekerjaan lainnya adalah membuat perahu nelayan. Mereka mulai berladang pada musim barat yang banyak hujannya, sedangkan pada musim timur mereka turun ke laut menangkap ikan. Dalam rangka kegiatan bercocok tanam mereka mengenal sistem tolong menolong yang disebut maren.

Kemasyarakatan, Kekerabatan Dan Kekeluargaan Suku Kei

Kesatuan kerabat yang terkecil dalam masyarakat Kei adalah keluarga inti yang mereka sebut riin rahan atau ub. Gabungan keluarga inti, yang disebut rahayan atau fam (klen kecil) dapat berkembang semakin besar menjadi satu klen besar yang lebih dikenal dengan nama soa. Sebuah kampung (ohoi) biasanya didiami oleh satu soa. Beberapa kampung bergabung menjadi satu desa yang disebut negeri. Soa-soa yang terdapat di dalam sebuah negeri yang terbagi kepada dua golongan, yaitu golongan Ursiwa dan Urlima. Kepemimpinan tradisional desa biasanya dipegang oleh orang-orang dari soa yang pertama sekali mendiami daerah itu. Orang Kei menganut prinsip garis keturunan yang bersifat patrilineal (melalui pihak ayah atau laki-laki). Dalam hal perkawinan mereka mencari pasangan di lingkungan lapisan sosial yang sama. Peranan fam atau rahayan lebih menentukan kedudukan seseorang dan dalam hubungan kekerabatan mereka menganut azas primogenitur, di mana hak anak sulung atau golongan senior lebih diutamakan.

Baca juga Suku Lainnya Di Maluku :
Ketentuan-ketentuan adat warisan leluhurnya mereka sebut hukum Larvul Ngabel. Selain mengatur perilaku anggota masyarakat hukum adat ini juga menggariskan masyarakat Kei ke dalam dua kelompok adat. Pertama, kelompok Ursiu atau "persekutuan sembilan" yang sebagian besar berdiam di kecamatan Kei kecil. Kedua, kelompok Lorlim atau "persekutuan lima" yang berdiam di Kecamatan Kei besar. Simbol keberadaan kedua kelompok adat ini antara lain terlihat dari jumlah tiang balai adat (abua) di kampung-kampung mereka.

Tiang balai adat pada kelompok adat. Ursiu berjumlah sembilan buah, sedangkan pada kelompok adat Lorlim berjumlah lima buah. Menurut struktur sosialnya masyarakat Kei terbagi menjadi tiga golongan atau lapisan sosial. Golongan terpandang, para pemimpin adat dan orang kaya merupakan lapisan sosial teratas yang disebut mel-mel. Golongan tengah terdiri dari rakyat kebanyakan yang biasanya disebut ren-ren. Pada masa lalu dikenal pula golongan iri-iri atau hiri-hiri, yaitu kelompok budak yang tidak punya apa-apa. Sistem pelapisan sosial dari masa lalu sebagian masih terlihat pemgaruhnya dalam kehidupan sosial sehari-hari. Misalnya dalam menentukan jodoh, dan menentukan pimpinan masyarakat, tatakrama dalam pergaulan sehari-hari, dan keterlibatan dalam upacara tertentu.

Desa-desa adat orang Kei pada masa lalu cenderung berbentuk kerajaan kecil, di mana rajanya disebut Rat atau Ratu atau Orang Kaya. Rat sendiri dibantu pula oleh sejumlah pejabat seperti Marinyo, Kapitan, dan Mayor. Kampung-kampung bawahannya dipimpin oleh para Kepala Soa. Para pemimpin yang berasal dari Soa tertua di negeri itu biasanya disebut Tuan Tanah atau Tae Jan. Pemimpin kharisma adat di setiap negeri biasanya adalah seorang senior bijaksana yang disebut Tovoat. Status terhormat juga diberikan kepada tokoh-tokoh yang disebut Mitu Duan, yaitu orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Rat sendiri dalam pemerintahannya mendapat pertimbangan dari badan musyawarah adat, yaitu Badan Saniri Negeri yang terdiri dari unsur-unsur pemimpin adat di atas. Pada masa sekarang pengaruh Rat masih cukup besar, terutama dalam menentukan seorang Kepala desa menurut sistem pemerintahan nasional.

Agama Dan Kepercayaan Suku Kei

Walaupun orang Kei umumnya sudah memeluk agama Islam atau Kristen, akan tetapi sebagian dari mereka masih meyakini konsepsi roh-roh dan kekuatan-kekuatan sakti menurut religi leluhurnya. Roh (mitu) dianggap bisa mendatangkan kebahagiaan dan juga kesusahan. Panen yang berhasil atau gagal, kehidupan yang sejahtera atau malapetaka yang menimpa penduduk dianggap berasal dari kekuatan mitu. Karena itu selain melaksanakan upacara-upacara kecil di lingkungan keluarga, setiap tahun mereka mengadakan pula upacara khusus "membersihkan" negeri secara massal. Upacara bersih desa ini mereka sebut sob-sob. Mitu dapat pula diperalat oleh manusia melalui praktik ilmu gaib yang mereka sebut suanggi. [Suku Dunia]
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Kei Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Kei Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya