Sejarah Suku Bentong Di Sulawesi

Suku Dunia ~ Suku bangsa ini dikenal juga sebagai Tobentong. Meteka berdiam di daerah Bulo-Bulo, di wilayah Tanete Riaja, Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi daerahnya yang berbukit-bukit, ditutupi hutan semak, tanah ladang, serta sawah yang tidak begitu luas, serta belum ada sarana jalan, menyebabkan mereka cenderung "terasing" dari dunia luar. Jumlah populasinya sekitar 1.000 jiwa. Mereka tersebar di enam perkampungan kecil, yaitu kamboti, Tabalaka, Panggalungan, Rumbia, Ketopok, dan Taipabalarasa. Jarak antara satu kampung dan kampung lain antara 3-4 jam berjalan kaki.


Menurut tradisi lisan yang mereka ceritakan, nenek moyang orang Bentong adalah keturunan putra Raja Bone dan putri Raja Tanete. Sementara itu bahasa yang digunakannya merupakan campuran antara bahasa Bugis dan Bahasa Makassar. Mereka sendiri cenderung hidup berpindah-pindah, sesuai dengan mata pencaharian perladangan tebang bakar yang mereka lakukan. Mereka bertanam padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang ijo, dan sayur-sayuran. Selain itu mereka juga berburu dan menangkap ikan, serta meramu hasil hutan.

Rumah panggung mereka amat sederhana dengan ketinggian sekitar satu meter dari atas tanah. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu, lantai dari kayu bulat atau bambu, dan atap dari daun nipah. Rumah yang umumnya tanpa kamar itu hanya mempunyai jendela. Peralatan tradisional yang dimiliki adalah keris, perisai, piring dari tempurung kelapa, piring bakul yang dianyam, tempat air dari kulit labu, periuk dari tanah, lesung, dan alu untuk menumbuk padi, senduk nasi dari kayu, alat pengiris ubi, tombak penangkap ikan, tombak untuk berburu, bubu yang dianyam dari bahan bambu. Alat musiknya juga amat sederhana, yaitu seruling bambu dan semacam kecapi yang terbuat dari kayu.

Baca juga Suku Lainnya Di Sulawesi :

Perkawinan Suku Bentong

Dalam perkawinan mereka menganut adat endogami kelompok. Akan tetapi seorang perjaka yang ingin menikah dengan gadis diluar kelompoknya diwajibkan menikahi seorang gadis dari kelompoknya sendiri terlebih dahulu. Mas kawin diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan berupa ladang atau kain. Adat menetap sesudah nikahnya cenderung utrolokal, artinya pasangan pengantin baru bisa menetap di lingkungan pihak suami atau di lingkungan kediaman pihak isteri.

Agama Dan Kepercayaan Suku Bentong

Kepercayaan asli orang Bentong ditandai oleh pemujaan roh nenek moyang dan benda-benda yang dikeramatkan. Mereka percaya bahwa kutukan-kutukan nenek moyang hanya dapat dihindari jika mereka rajin melakukan upacara pemujaan (arajang). Benda-benda upacara tersebut terdiri atas keris, tombak, perisai, payung, dan lain-lain. Benda-benda yang dianggap keramat tersebut dikeluarkan pada upacara pelantikan pimpinan adat, perkawinan, bencana alam, dan peristiwa lain yang dianggap penting. Pada saat ini umumnya orang Bentong sudah mengaku beragama Islam.
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Bentong Di Sulawesi Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Bentong Di Sulawesi Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya