Sejarah Suku Melayu Jambi

Suku Dunia ~ Masyarakat Jambi atau Melayu Jambi berdiam di sekitar Kotamadya Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung, Kabupaten Batanghari, dan Kabupaten Bungo Tebo. Suku bangsa ini diperkirakan berjumlah sekitar 300.000 jiwa. Melihat dari bahasa dan kebiasaan hidupnya, masyarakat melayu jambi memang termasuk ke dalam rumpun bangsa melayu, dimana beda bahasanya dengan bahasa Indonesia sangat sedikit. Misalnya kata-kata yang berakhiran vokal a dalam Bahasa Indonesia, dalam bahasa Jambi menjadi vokal o, seperti duga menjadi dugo, mata menjadi mato, ke mana menjadi ke mano, permata menjadi permato dan seterusnya.

Mata Pencaharian Suku Melayu Jambi

Mata pencaharian mereka terutama bercocok tanam di ladang yang mereka bagi menjadi empat bentuk, yaitu parelak, kabun mudo, umo rendah dan talang. Perelak adalah ladang dekat desa yang ditanami cabe, kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Kabun mudo adalah ladang yang ditanami tanaman muda, seperti pisang, kedelai dan kacang tanah. Umo rendah adalah ladang agak luas yang ditanami padi, dan di sekitarnya ditanami jagung, sorgum, ketimun dan lain-lain. Sedangkan umo talang adalah ladang yang terletak jauh dari desa, terutama ditanami padi dan tanaman sampingan lainnya.

Masyarakat Suku Melayu Jambi

Kehidupan etnis mereka sekarang masih dapat dilihat dari pengelompokan suku atau kalbu, yaitu pengelompokan sosial yang erat hubungannya dengan Kesultanan Jambi dulu. Jumlah kalbu yang masih tersisa ada dua belas, yaitu Jebus, Pemayung, Maro Sebo, Awin, Petajin, Suku Tujuh Koto, Mentong, Panagan, Serdadu, Kebalen, Aur Hitam dan Pinokowan Tengah.

Lingkungan kesatuan hidup setempatnya yang terkecil disebut dusun, sekarang setingkat dengan desa. Setiap dusun mempunyai nama berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Ada dusun yang bernama Teluk Leban, karena terletak di teluk yang ditumbuhi pohon kayu leban. Ada yang dinamakan Rantau Panjang karena terletak di sebuah rantau (daratan) yang panjang. Pemimpinnya disebut penghulu dusun. Selanjutnya masing-masing dusun dikendalikan oleh marga yang dipimpin oleh seorang pesirah. Marga adalah wilayah adat dari orang-orang yang merasa masih satu asal nenek moyang, atau karena adanya ikatan persekutuan kekerabatan pada masa dulu.

Dalam masyarakat Suku Melayu Jambi masih nampak sisa-sisa pelapisan sosial lama, ditandai oleh adanya golongan bangsawan yang berasal dari keturunan raja-raja zaman dulu, yaitu mereka yang bergelar Raden, Sayid, atau Kemas. Golongan menengah adalah para saudagar besar, pemilik perkebunan. Rakyat banyak biasanya menyebut diri orang Kecik (orang kecil). Sistem pelapisan sosial seperti ini semakin lama makin berubah. Orang Melayu Jambi hidup dalam rumah tangga keluarga inti monogami dengan prinsip garis keturunan yang bilateral. Pilihan jodoh cenderung untuk endogami dusun.

Agama Dan Kepercayaan Suku Melayu Jambi

Suku Melayu Jambi sudah memeluk agama Islam, dan umumnya mengikuti mahzab Syafi'i. Dalam kehidupan sehari-hari masih ada kepercayaan animisme dan dinamisme, dimana peranan dukun sebagai perantara dengan dunia gaib masih ditemukan bercampur baur dengan kepercayaan kepada makhluk jelmaan dunia gaib yang suka mengganggu manusia dan bisa pula dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

Referensi : Depdikbud 1977/1978, Loeb 1972
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Melayu Jambi Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Melayu Jambi Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya