loading...

Sejarah Suku Mandobo

Sejarah Suku Mandobo ~ Suku bangsa Mandobo mendiami beberapa perkampungan di sekitar sungai Mandobo, yaitu antara hulu Sungai Digul dan Sungai Kao yang bermuara ke pantai selatan Papua Barat. Antara lain di Kecamatan Merauke, Kecamatan Waropko dan Kecamatan Mindiptana, Kabupaten Merauke.

Sebutan untuk mereka sebenarnya adalah Wandub Wambon. Kelompok yang tinggal di sebelah kiri sungai Kao menyebut dirinya Wandub, sedangkan yang tinggal di sebelah kanan Sungai Kao menyebut dirinya Wambon. Orang luarlah yang memberi mereka nama Mandobo, sesuai dengan nama sungai Mandobo yang melintasi daerah itu.


Wilayah asal mereka terletak antara wilayah orang Awyu dan Muyu. Dari segi bahasa mereka memang banyak persamaan dengan suku bangsa Awyu. Jika orang Muyu mengembangkan kebudayaan petani, orang Awyu kebudayaan peramu, maka orang Mandobo cenderung sebagai masyarakat peralihan dari peramu ke petani. Sebagian masih suka hidup berpindah tempat. Tetapi sekarang banyak yang datang ke kota Merauke untuk bersekolah dan bekerja di kantor-kantor atau mengajar di sekolah-sekolah. Jumlah populasinya sekitar 1.000 jiwa.

Mata Pencaharian Suku Mandobo

Pertanian orang Mandobo masih berupa sistem tebang bakar dan berpindah dengan tanaman seperti ubi jalar, ubi kayu, talas dan sayur-sayuran. Untuk itu peralatan yang digunakan hanya tugal atau linggis kayu untuk membalik tanah. Orang Mandobo yang berdiam di kampung Tambak, Kecamatan Merauke, sudah belajar menanam padi di sawah dari penduduk transmigrasi yang bermukim di dekat mereka. Berburu masih dilakukan dengan menggunakan tombak, panah atau jerat serta dibantu oleh anjing-anjing. Hewan buruannya adalah rusa, babi hutan, kasuari, dan burung-burung seperti kakatua, nuri dan betet. Di lingkungan hidup yang bersungai-sungai itu mereka masih bisa menangkap ikan atau binatang liar lainnya untuk dimakan.

Kekerabatan Dan Kekeluargaan Suku Mandobo

Karena sebagian besar mereka masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil, maka kepemimpinan kelompok seperti itulah yang mereka perlukan. Pemimpin kelompok biasanya seorang lelaki dewasa kuat dan berpengalaman dengan dukungan orang-orang tua bijak. Dalam lingkungan sistem pemerintahan desa dan kecamatan yang baru mereka kenal pemimpin kelompok ini diakui sebagai pemimpin informal.

Keluarga-keluarga inti Mandono hidup dalam lingkungan keluarga luas terbatas dimana pilihan kawin harus dilakukan di luarnya. Seorang isteri segera ikut keluarga luas terbatas dari pihak suaminya begitu terikat perkawinan. Oleh karena itu pinangan dari pihak lelaki diterima oleh pihak perempuan dengan sejumlah tuntutan mas kawin, seperti beberapa ekor babi, belasan buah kulit kerang serta seperangkat busur dan panahnya. Sebagian dari anggota suku bangsa Mandobo sudah memeluk agama Katolik tetapi masih banyak juga yang menganut kepercayaan lamanya.

Referensi : Boelaars 1986, Depdikbud 1989, Depsos 1990
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Mandobo Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Mandobo Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya