Sejarah Suku Maloh Di Kalimantan

Suku Dunia ~ Suku Maloh atau Orang Maloh atau Embaloh mendiami daerah sekitar anak-anak sungai di hulu Sungai Kapuas, seperti di sekitar sungai Ulu, Lauh, Palin, Mandai, Nyabau dan Leboyan. Desa-desa mereka antara lain, Siut, Belimbis, Keram, Leboyan, Benua Martinus, Bunut, dan Putus Sibau. Daerah tersebut berada dalam wilayah Kecamatan Embaloh Hilir, Kecamatan Lanjak, Kecamatan Putus Sibau dan Kecamatan Mandai, di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Daerah itu dekat dengan perbatasan Indonesia dan Serawak, Malaysia. Jumlah populasinya sekitar 4.750 jiwa. Orang Maloh mungkin masih satu kelompok dengan suku bangsa Taman dan Kalis.

Sumber Penghidupan Suku Maloh

Masyarakat ini terutama hidup dari perladangan dengan tanaman pokok padi, jagung, kacang, ketimun, singkong, ubi jalar (ubi manis), cabe, sayur-sayuran serta buah-buahan seperti durian, rambutan, nangka, nenas, pisang dan sebagainya. Mereka biasa pula menanam tebu setelah panen di ladang. Sumber makanan mereka yang lain adalah sagu yang tumbuh secara liar dalam hutan. Sumber protein hewani utamanya adalah ikan yang ditangkap di sungai-sungai dengan menggunakan jala, tangguk, kail atau tuba. Selain itu, mereka juga memelihara ternak babi, sapi, kambing, ayam. Sebagian lainnya memelihara kerbau. Selain memperoleh daging dari ternak mereka juga suka berburu binatangliar seperti babi hutan, kera, beruang, dan musang. Sumber keuangan lainnya adalah menyadap getah dari kebun-kebun karet mereka sendiri. Pada masa sekarang penghasilan bertambah pula oleh adanya usaha penebangan kayu dan pengolahan rotan.

Kemasyarakatan Suku Maloh

Orang Maloh tinggal di kampung-kampung di tepi sungai yang mereka sebut banua. Setiap banua memiliki satu atau lebih sau (rumah panjang). Wilayah kampung ditandai oleh adanya uma (lahan perladangan) milik mereka serta batas-batas alam yang diakui oleh suku-suku bangsa lain. Setiap kampung dikepalai oleh seorang pemimpin yang mereka sebut samagat, biasanya dipilih turun temurun dari golongan bangsawan. Dalam peranannya samagat ini perlu memperoleh dukungan dari dewan tetua yang mereka sebut tamatoa. Dalam masyarakat ini rupanya juga ada pelapisan sosial. Lapisan pertama adalah golongan samagat. Lapisan kedua adalah golongan pabiring, yaitu kelas menengah yang umumnya memiliki posisi sosial yang baik karena kelebihan kemampuan, misalnya dalam hal kepandaian atau harta kekayaan. Lapisan di bawahnya adalah orang-orang kampung biasa yang disebut banua. Pada zaman dulu mereka juga mengenal golongan budak yang disebut pangkam atau ulun.

Kekeluargaan Dan Kekerabatan Suku Maloh

Setiap keluarga (kaiyan) mendiami bagian ruangan sau (rumah panjang) yang disebut tindoan. Keluarga yang mendiami tindoan ini umumnya berbentuk keluarga batih yang merupakan gabungan dari satu keluarga inti senior dan beberapa keluarga inti yunior dari garis kekerabatan yang bersifat patrilineal. Sistem perkawinannya biasanya dibatasi oleh kebiasaan kawin yang bersifat endogami rangking sosial.

Agama Dan Kepercayaan Suku Maloh

Pada masa sekarang kebanyakan orang Maloh sudah memeluk agama Katolik atau juga Islam, walaupun begitu tradisi yang ada masih sering mendukung bagi kehidupan kepercayaan asli di kalangan sebagian mereka. Sementara itu orang Maloh yang memeluk agama Islam karena menjadi kelompok minoritas lebih suka pindah ke lingkungan masyarakat Muslim lain.

Referensi : King 1985
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Maloh Di Kalimantan Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Maloh Di Kalimantan Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya