loading...

Sejarah Suku Minahasa

Sejarah Suku Minahasa ~ Suku Minahasa atau Orang Minahasa sering juga disebut orang Manado. Mereka sendiri suka pula menyebut diri sebagai orang Kawanua. Masyarakat ini sebagian besar mendiami daerah timur laut jazirah Sulawesi Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Sebenarnya masyarakat ini terbagi-bagi lagi kepada delapan sub-suku bangsa, yaitu Tonsea, Tombulu, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan, Totembuan, Toulour dan Bantik. Jumlah populasi mereka diperkirakan sekitar 800.000 jiwa, belum termasuk yang berdiam di daerah-daerah lain.

Bahasa Suku Minahasa

Bahasa umum yang dipakai oleh orang Minahasa sekarang adalah bahasa "Melayu Manado". Sedangkan bahasa aslinya adalah apa yang dikenal sebagai bahasa turunan atau dialek dari setiap sub kelompok suku bangsa yang ada.

Mata Pencaharian Suku Minahasa

Sejak lama daerah ini terkenal sebagai penghasil kopra, dan sejak beberapa puluh tahun terakhir terkenal pula sebagai penghasil cengkeh. Mata pencaharian pokok mereka memang bertani di ladang dengan tanaman seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan dan sedikit padi. Masyarakat Minahasa yang berdiam di dekat perairan laut dan danau, misalnya di pinggir Danau Tondano, hidup sebagai penangkap ikan. Sebagian masih ada yang berburu dan meramu sebagai pekerjaan tambahan. Sekarang kebanyakan di antara mereka bekerja sebagai guru, pedagang, pengusaha, pegawai kantor pemerintah dan swasta.

Masyarakat Suku Minahasa

Dibandingkan masyarakat-masyarakat lain di Indonesia, masyarakat ini sudah lebih dulu menyerap unsur kebudayaan Barat, yaitu semenjak kedatangan bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda pada beberapa ratus tahun yang lalu. Daerah mereka merupakan pusat penyebaran agama Kristen bagi Sulawesi Utara. Pengaruh yang cukup lama itu menyebabkan sisa-sisa unsur kebudayaan aslinya banyak yang hilang dari kehidupan tradisionalnya.

Kelompok kekerabatan terkecil dan penting dalam masyarakat Minahasa adalah keluarga inti monogami yang mereka sebut seme'urang. Setiap orang memakai nama kelompok kekerabatan patrilineal yang disebut fam. Akan tetapi masyarakat ini juga mengenal ikatan kekerabatan yang lebih luas dan bilateral sifatnya, disebut patuari. Kekeabatan patuari ini terutama berfungsi dalam rangka kegiatan gotong royong secara adat yang mereka sebut mapalus, seperti dalam masalah perkawinan, kematian, kerja sama sosial ekonomi dan lain-lain.

Pada zaman dulu mereka mengenal beberapa penggolongan dalam masyarakatnya. Ada golongan yang mengurus masalah-masalah keagamaan (religi lama) yang disebut makarua alow. Kemudian ada golongan pemimpin sosial politik negeri yang disebut makatelupitu, ke dalamnya termasuk para panglima perang dan prajurit yang disegani. Sesudah itu baru golongan rakyat biasa.

Dulu sistem desa tradisional Minahasa disebut Wanua, yang terdiri atas beberapa buah kampung yang disebut ro'ong. Pemimpin wanua disebut hukum tua atau paedon tua. Para wanua berorientasi ke desa dari mana mereka berasal. Kesatuan daerah seasal ini disebut walak, dan ketuanya disebut tua um walak. Beberapa walak membentuk konfederasi sendiri yang disebut pakasa'an. Pada abad ke 16 terdapat 17 buah walak dan 4 buah pakasa'an.

Agama Dan Kepercayaan Suku Minahasa

Sekarang sebagian besar orang Minahasa telah memeluk agama Kristen Protestan. Kepercayaan asli mereka pada dasarnya animisme, pemujaan roh nenek moyang yang disebut opo atau datu dan kepada kekuatan magis (doti). Dulu kegiatan ritual dalam kepercayaan asli dipimpin oleh seorang imam (walian tonaas).

Referensi : Kaudern 1937, Kalangie 1983, Adam 1976
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Minahasa Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Minahasa Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya