Sejarah Suku Lamahot Di Nusa Tenggara Timur

Sejarah Suku Lamahot ~ Nama lain untuk suku bangsa ni adalah Lamkolot. ada juga yang menyebut dirinya orang Lamholot, Solor atau Larantuka. Mereka berdiam di Pulau Solor, Pulau Adonara, dan Pulau Lomblem di wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah populasinya sekitar 100.000 jiwa. bahasanya terbagi ke dalam tiga kelompok dialek, yaitu dialek Lamahot Barat, Lamahot Tengah, dan Lamahot Timur. Mata pencaharian masyarakat ini umumnya berladang, menangkap ikan dan memelihara ternak.

Kekeluargaan Suku Lamahot

Keluarga intinya mereka disebut langeuma yang biasanya bergabung ke dalam kesatuan keluarga luas terbatas yang disebut manuk one. Kelompok kekerabatan ini membentuk lagi sebuah klen yang lebih dikenal dengan istilah nue newa wungu. Masyarakat ini seperti menganut prinsip kekerabatan patrilineal, terutama dalam kehidupan religi dan pewarisan harta pusaka. Desa-desanya mengelompok padat dan membentuk pola empat persegi panjang dimana bagian depan desa atau kampung menghadap ke arah timur, dan bagian belakangnya ke arag barat.

Kekerabatan Dan Masyarakat Suku Lamahot

Kelompok-kelompok kekerabatan mereka yang dominan umumnya menduduki jabatan kepemimpinan tradisional sejak dulu. Para pemimpin ini menganggap diri dan keturunannya lebih tinggi kedudukannya dari pada orang lain. Golongan sosial tingkat tinggi ini disebut atakabelen. Orang kebanyakan disebut ata, dan golongan hamba sahaya disebut aziana.

Agama Dan Kepercayaan Suku Lamahot

Masyarakat ini sudah banyak yang memeluk agama Kristen Protestan, Katolik, dan Islam, akan tetapi banyak juga yang masih mempertahankan kepercayaan lama. Kepercayaan asli orang Lamahot memuja dewa-dewa dan roh-roh nenek moyang. Dewa tertinggi mereka sebut Lera Wulan Tana Ekan. Dewa pencipta ini hanya mungkin dihubungi dengan perantaraan roh nenek moyang yang sudah tenang di alam lain. Karena itu upacara penghormatan kepada roh nenek moyang menjadi sangat penting. Upacara keagamaan asli ini dilakukan pada bangunan megalitik yang disebut nuba era dan korke, sejenis dolmen. Di dalam korke terdapat sebuah tiang dari kayu yang disebut rie lima wana (tiang tangan kanan), merupakan simbol pemujaan terhadap Lera Wulan Tana Ekan. Hewan kurban diikat di tiang ini sebelum dipotong. Darah hewan korban selalu dipoleskan ke tiang ini. [Suku Dunia]

Referensi : Depdikbud 1989, Hidayat 1984
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Lamahot Di Nusa Tenggara Timur Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Lamahot Di Nusa Tenggara Timur Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya