Sejarah Suku Belu Di Timor Leste

Suku Dunia ~ Orang Belu sering juga disebut orang Tetun, Tettum atau Teto. Belu adalah nama yang diberikan oleh orang Atoni, sedangkan Teto adalah nama yang diberikan oleh orang Portugis, mereka sendiri lebih suka menyebut dirinya orang Tetun. Masyarakat ini mendiami Pulau Timor bagian tengah, baik di bagian barat maupun di bagian timur Negara Timor Leste (Timor Timur). Pada zaman penjajahan Portugis bahasa Tetun menjadi bahasa resmi kedua setelah bahasa Portugis. Jumlah populasinya sekarang sekitar 300.000 jiwa. Pemakai bahasa Tetun di Timor Timur berjumlah sekitar 600.000 jiwa.


Perkampungan orang Belu umumnya dihuni oleh penduduk yang berasal dari paling tidak dua klen patrilineal. Kampung-kampung itu biasanya berada di dalam lingkungan sebuah desa yang berbentuk kerajaan yang disebut fukun atau suku. Golongan masyarakatnya paling tidak terbagi ke dalam dua tingkatan, yaitu golongan bangsawan yang disebut dassi atau dato dan orang kebanyakan yang disebut ahi matan atau ema. kaum bangsawan yang menjadi raja (sekarang kepala desa) disebut Liurai. Zaman dulu ada pula golongan hamba sahaya yang disebut ata.

Sebuah kampung terdiri dari sejumlah rumah tangga yang disebut knua (cnua), dipimpin oleh seorang uma ulua. Walaupun begitu keluarga inti yang disebut uma (sebutan yang sama untuk rumah) umumnya lebih suka membuat rumah sendiri dilingkungan kampung pihak orang tua lelaki. Sebuah kampung dihuni oleh kelompok kekerabatan patrilineal (uma knua) dipimpin oleh seorang dato uain yang berperan sebagai pembantu liurai (raja). Setiap uma knua memiliki balai adat sendiri yang disebut uma bo'o. Karena masyarakat ini suka berladang, maka di ladang sering kali mereka buat sebuah rumah yang disebut uma to'os. Umumnya rumah-rumah itu berdiri atas tiang-tiang, beratap ilalang, berdinding daun lontar atau bilang bambu, dan tanpa jendela.

Mata Pencaharian Suku Belu

Mata pencaharian utama masyarakat ini adalah bertani padi dan jagung. Mereka akan bersawah jika lahan mereka bagus untuk persawahan dan berladang jika tanahnya tidak mempunyai sumber air yang baik. Tanaman pokoknya adalah padi dan jagung. Makanan sehari-hari umumnya jagung, beras hanya dimasak pada saat-saat tertentu , seperti waktu upacara dan sebagainya. Mereka juga suka beternak secara tradisional, antara lain memelihara babi, kerbau, dan kuda. Kerbau terutama dipakai sebagai pelunyah sawah dan sebagai hafoli (mas kawin).

Kekerabatan Suku Belu

Walaupun pada dasarnya sistem garis kekerabatan orang Belu bersifat patrilineal, tetapi karena perjanjian sebelum kawin yang mengharuskan seorang lelaki tinggal di lingkungan pihak wanita, maka kesan matrilineal juga nampak dalam masyarakat ini. Kesatuan keluarga luas terbatas mereka sebut uma kain yang terbagi lagi menjadi kelompok feto fuan (kerabat ayah) dan mane fuan (kerabat ibu). Setiap uma kain dipimpin oleh seorang katuas (untuk urusan duniawi) dan seorang katuas lulik (untuk urusan sakral). keluarga-keluarga batih (kesatuan rumah tangga atau knua) dipimpin oleh seorang bahen. Kepala keluarga inti disebut uma ulun.

Perkawinan Suku Belu

Orang Belu atau Tetun mengenal empat macam perkawinan. Yang pertama disebut perkawinan hafoli, dimana pihak lelaki harus menyerahkan sejumlah maskawin yang jumlahnya telah ditentukan menurut kedudukan sosial kedua belah pihak. Kedua perkawinan yang disebut habani, dimana suami berdiam di lingkungan pihak isterinya dan anak-anaknya menjadi bagian dari klen isterinya, ini karena si lelaki tidak membayar maskawin secara penuh pada saat perkawinan. Ketiga perkawinan yang disebut fetosa umane yang biasanya dilakukan oleh golongan bangsawan atau ratu, dimana mereka telah terikat kepada keharusan untuk saling mengawinkan anak-anak mereka. Dalam hal ini pihak wanita disebut umane dan pihak lelaki disebut feto oan. Keempat adalah perkawinan yang disebut hafen, dimana seorang wanita mengikuti lelaki yang disukainya tanpa melewati prosedur perkawinan dan kekerabatan, jadi semacam kawin bawa lari.

Agama Dan Kepercayaa Suku Belu

Religi Belu berorientasi kepada pemujaan matahari dan bulan (maromak) dan pemujaan roh-roh. Jiwa manusia disebut bian. Roh nenek moyang disebut nitu. Roh-roh yang dianggap mendiami tempat keramat disebut rai na'in. Ada pula roh-roh jahat yang tinggal dalam hutan belantara yang disebut buan, serta roh yang jahat yang selalu mengembara memakan manusia, ini disebut suanggi. Mereka percaya kepada kemampuan dukun buan atau matan do'ok.

Sementara itu ritus-ritus religi asli dalam setiap desa dipimpin oleh semacam pendeta yang mereka sebut makair lulik. Tugasnya adalah menjamin hubungan baik antara warga masyarakat dengan roh-roh yang berkuasa disekitar mereka. Pada masa sekarang kebanyakan orang Belu sudah memeluk agama Katolik yang dibawa oleh para pendeta Jesuit Portugis bersamaan dengan zaman penjajahan Portugis di negara tersebut. Sebagian kecil ada juga yang sudah memeluk agama Kristen Protestan dan Islam. Suku Dunia
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Belu Di Timor Leste Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Belu Di Timor Leste Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya