Sejarah Suku Bulungan

Suku Dunia ~ Orang Bulungan mendiami sebagian besar wilayah kabupaten Bulungan di Provins Kalimantan Timur. Mereka mungkin masih bagian dari kelompok suku bangsa Murut. Mereja bermukm di sekitar bagian tengah darah aliran sungai Bahau.

sumber : travel.detik.com

Kata Bulungan berasal dari kata Bulu Tengon (Bahasa Bulungan) yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi "Bulungan". Sebuah cerita legenda yang berkembang di masyarakat Suku Bulungan bahwa dari sebuah bambu itulah terlahir seorang pemimpin yang diberi nama Jauwiru.

Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan. Setelah Kuwanyi wafat maka Jauwiru menggantikan kedudukannya sebagai ketua Suku Bangsa Dayak (Hupan). Kemudian Jauwiru mempunyai seorang putra yang bernama Paran Anyi.

Paran Anyi tidak mempunyai keturunan lelaki, tetapi ia mempunyai istri yang bernama Lahai Bara yang kemudian kawin dengan seorang laki-laki yang bernama Wan Paren yang menggantikan kedudukan Paran Anyi. Dari perkawinan Lahai Bara dan Wan Paren lahir seorang putra bernama Si Barau dan seorang putri bernama Simun Luwan.

Pada masa akhir hidupnya, Lahai Bara mengamanatkan kepada kedua anaknya agar "Lungun" yaitu peti matinya diletakkan di sebelah hilir (Sungai Kipah). Lahai Bara mewariskan tiga macam benda pusaka, yaitu ani-ani atau kerkapan, kedabang sejenis tutup kepala, sebuah dayung. Tiga jenis warisan ini menimbulkan perselisihan antara Si Barau dan saudaranya, Simun Luwan. Akhirnya Simun Luwan berhasil mengambil dayung dan pergi membawa serta peti mati Lahai Bara.

Karena kesaktian yang dimiliki oleh Simun Luwan hanya dengan menggoreskan ujung dayung pada sebuah tanjung dari sungai Payang, maka tanjung itu terputus dan hanyut ke hilir sampai ke tepi sungai Kayan yang sekarang terletak di kampung Long Pelban. Di hulu kampung Long Pelban inilah peti mati Lahai Bara dikuburkan.

Menurut kepercayaan seluruh keturunan Lahai Bara, terutama keturunan raja-raja Bulungan, dahulu tidaka ada seorangpun yang berani melintasi kuburan Lahai Bara, karena takut kutukan Si Barau ketika bertengkar dengan Simun Luwan. Barangsiapa saja dari keturunan Lahai Bara yang melewati peti matinya pasti tidak akan selamat. Tanjung hanyut itu sampai sekarang oleh suku-suku bangsa Dayak Kayan dinamakan Busang Mayun, yang artinya Pulau Hanyut.

Kepergian Simun Luwan disebabkan oleh perselisihan dengan saudaranya sendiri, saat itu merupakan permulaan perpindahan suku-suku bangsa kayan, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka dari sungai Payang menuju sungai Kayan dan menetap tidak jauh dari kota Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan sekarang.

Referensi : http://www.wisatakaltim.com/sejarah/sejarah-bulungan/
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Bulungan Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Bulungan Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya