Sejarah Suku Bali

Suku Dunia ~ Suku bangsa Bali atau Bali Hindu mendiami Pulau Bali. Pulau yang terdiri dari dataran rendah di sekeliling bagian pesisir dan daerah perbukitan serta pegunungan di bagian tengah. Bagian pegunungan mereka sebut kaja dan bagian dataran rendah arah ke pantai mereka sebut kelot.


Kondisi alam seperti itu disertai pula oleh sedikit perbedaan antara penduduk pegunungan dengan dataran rendah. Dimana penduduk dataran tinggi jumlahnya lebih sedikit dan agak terpengaruh oleh kebudayaan luar, disamping bahasanya yang memang sedikit berbeda dengan bahasa orang Bali pada umumnya. Kelompok masyarakat di pegunungan ini lebih suka disebut sebagai orang Aga atau Bali Aga.

Untuk membedakannya maka orang Bali yang lebih terpengaruh oleh agama Hindu kita sebut saja orang Bali Hindu. Orang Bali Hindu tersebar hampir di seluruh daratan Bali. Bahasanya sendiri terbagi ke dalam beberapa dialek, yaitu dialek buleleng, Karangasem, Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana. Bahasa Bali Hindu mengenal tiga tingkatan pemakaian bahasa yaitu bahasa Alus, Lumrah (madia) dan bahasa Bali kasar, berbeda dengan bahasa Bali Agha yang hampir tidak mengenal tingkatan seperti itu. Akan tetapi sekarang bahasa bali alus digunakan secara resmi oleh hampir semua golongan dalam pergaulan di daerah Bali sendiri. Bahasa Bali juga mengenal tulisan yang rupanya pengembangan dari tulisan sansekerta. Tulisan Bali ini ditulis pada awalnya pada media daun lontar atau bilah bambu.

Mata Pencaharian Suku Bali

Kehidupan ekonomi suku bangsa Bali bertumpu kepada pertanian, terutama bertanam padi di sawah irigasi yang sudah berkembang sejak dulu, lengkap dengan kelompok-kelompok kesatuan petani di sawah irigasi yang disebut subak. Selain itu mata pencaharian pedesaan lain juga berkembang dengan baik, seperti pemeliharaan ternak sapi, kerbau, ayam, itik, babi, kambing, anjing, dan sebagainya. Ternak kerbau digunakan untuk menarik bajak di sawah. Ternak ayam pada awalnya banyak ditujukan untuk kesenangan lelaki, yaitu untuk keperluan permainan sabung ayam jantan menggunakan taji besi.

Kesenian Suku Bali

Jiwa kekaryaan masyarakat Bali berkembang dalam hampir segala bidang seperti pengembangan karya arsitektur bangunan rumah, rumah ibadah, istana, perlengkapan desa dan lain-lain. Mereka pandai sekali mengukir kayu, emas, tembaga, batu, dan sebagainya. Kepandaian menenun dengan teknik dan motif sendiri juga tidak kalah pentingnya. Semua itu berkaitan erat dengan pola dan sikap kehidupan sosial budaya orang Bali yang amat religius. Lingkaran hidup individu, masyarakat dan pedesaan penuh dengan upacara-upacara lengkap dengan berbagai sesajinya.

Kemasyarakatan Dan Kekeluargaan Dalam Suku Bali

Masyarakat Bali hidup dalam bentuk kesatuan hidup setempat yang disebut pawongan atau desa yang terbagi ke dalam dua jenis, yaitu desa adat dan desa dinas. Yang pertama adalah desa tradisional yang terbentuk berdasarkan ketentuan adat turun temurun yang terikat secara religius ke dalam berbagai kegiatan upacara. Desa adat ini dipimpin oleh seorang kepala Adat yang disebut kelian adat atau bandesa adat. Tokoh ini dipilih dari anggota kerapatan adat desa yang disebut kerama desa untuk waktu yang tidak terbatas. Desa dinas adalah bentuk desa yang terpengaruh oleh sistem administrasi nasional karena merupakan bagian dari sebuah Kecamatan dan berurut ke atas ke Kabupaten dan Provinsi. Desa dinas dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang disebut perbekel atau bandesa.

Selain kedua jenis desa tersebut suku bangsa Bali mengenal pula kesatuan hidup setempat yang religius sifatnya. Desa seperti ini disebut kahyangan tias, yaitu kesatuan dari tempat-tempat ibadah desa seperti pura puseh, pura desa dan pura dalem. Rumah-rumah (uma) dalam setiap desa didirikan menurut suatu ketentuan religi dimana ruangan-ruangan rumah dan pekarangannya dibagi-bagi untuk kepentingan religi tertentu. Bagian rumah arah ke hulu (kaja) disebut utama mandala, yaitu tempat persembahyangan keluarga. Dibagian ini terdapat bangunan pemujaan kecil yang disebut sanggah atau pamerajaan. Bagian tengah lingkungan rumah adalah tempat tinggal anggota keluarga. Bagian hilir disebut kawasan nistha mandala yaitu tempat mendirikan kandang ternak dan pembuangan kotoran. Sebuah desa terbagi ke dalam beberapa buah banjar, yaitu kesatuan hidup yang berorientasi kepada kegiatan sosial ekonomi dan hubungannya dengan upacara adat dan religi. Setiap banjar terbagi lagi ke dalam beberapa buah tempekan (kampung). Kemudian setiap tempekan terbagi pula ke dalam beberapa buah pekurenan. Kalau Desa dipimpin oleh seorang perbekel maka banjar dipimpin oleh seorang klian banjar. Tokoh ini dibantu pula oleh beberapa orang juru arah atau kesinoman.

Sistem garis keturunan dan hubungan kekerabatan orang Bali berpegang kepada prinsip patrilinel (purusa) yang amat dipengaruhi oleh sistem keluarga luas patrilineal yang mereka sebut dadia dan sistem pelapisan sosial yang disebut wangsa (kasta). Sehingga mereka terikat ke dalam perkawinan yang bersifat endogami dadia dan atau endogami wangsa. Orang-orang yang masih satu kelas (tunggal kawitan, tunggal dadia dan tunggal sanggah sama-sama tinggi tingkatannya. Dalam perkawinan endogami klen dan kasta ini yang paling ideal adalah antara pasangan dari anak dua orang laki-laki bersaudara. Masyarakat Bali Hindu memang terbagi ke dalam pelapisan sosial yang dipengaruhi oleh sistem nilai yang tiga, yaitu utama, madia, dan nista. Kasta utama atau tertinggi adalah golongan barahmana, kasta madia adalah golongan ksatria dan kasta nista adalah golongan waisya. Selain itu masih ada golongan yang dianggap paling rendah atau tidak berkasta yaitu golongan sudra, sering pula mereka sebut jaba wangsa (tidak berkasta).

Dari kekuatan sosial kekerabatannya dapat pula dibedakan atas klen pande, pasek, bujangga dan sebagainya. Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sehari-hari hampir semuanya dipengaruhi oleh keyakinan mereka kepada agama Hindu Darma yang mereka anut sejak beberapa abad yang lalu. Oleh karena itu studi tentang masyarakat dan kebudayaan Bali tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem religi Hindu. Agama Hindu Darma atau Hindu-Jawa yang mereka anut mempercayai Tuhan Yang Maha Esa dalam konsep tri murti, yaitu Tuhan yang mempunyai tiga wujud : Brahma (pencipta), Wisnu (pelindung), dan Siwa (pelebur segala yang ada). Selain itu ada pula beberapa tokoh dewa yang lebih rendah. Semuanya perlu dihormati dengan mengadakan upacara dan sesajian. Mereka juga menganggap pentinh konsepsi tentang Roh Abadi yang disebut athman, adanya buah setiap perbuatan (karmapal), kelahiran kembali sang jiwa (purnahawa) dan kebebasan jiwa dari kelahiran kembali (moksa). Dalam menyelenggarakan pemakaman anggota keluarga orang Bali selalu melaksanakan tiga tahapan upacara kematian. Pertama upacara pembakaran mayat (ngahen), kedua upacara penyucian (nyekah) dan ketiga upacara ngelinggihang. Ajaran-ajaran di agama Hindu darma ini termaktub dalam kitab suci yang disebut Weda.
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Bali Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Bali Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya