Sejarah Suku Cia-Cia Laporo Di Sulawesi Tenggara

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan. Salah satu daerah yang memiliki keragaman budaya tersebut adalah Provinsi Sulawesi Tenggara, khususnya Pulau Buton. Pulau Buton memiliki berbagai kelompok masyarakat dengan bahasa dan kebudayaan yang beragam. Salah satunya adalah masyarakat Cia-Cia Laporo.


Cia-Cia Laporo merupakan salah satu kelompok masyarakat yang hidup di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Masyarakat Laporo memiliki bahasa, adat istiadat, tradisi, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bahasa Cia-Cia Laporo tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi salah satu bagian penting dalam mempertahankan identitas masyarakatnya. Penelitian mengenai Cia-Cia Laporo menunjukkan bahwa bahasa mempunyai peranan penting dalam memperkuat identitas masyarakat Laporo.

Sejarah masyarakat Laporo sebagian besar diwariskan melalui tradisi lisan. Oleh karena itu, terdapat beberapa versi mengenai asal-usul nama dan sejarah mereka. Hal tersebut menunjukkan pentingnya pelestarian cerita rakyat, bahasa, adat, dan tradisi agar pengetahuan mengenai masyarakat Laporo tidak hilang.

Asal-Usul Suku Cia-Cia Laporo

Masyarakat Cia-Cia merupakan salah satu kelompok masyarakat yang mendiami Pulau Buton dan wilayah sekitarnya. Dalam berbagai penelitian, Cia-Cia mencakup beberapa kelompok atau komunitas, salah satunya adalah Cia-Cia Laporo. Selain Laporo, terdapat kelompok Cia-Cia lainnya seperti Wabula, Lapandewa, Sampolawa, Batauga, Wali, dan kelompok lainnya. Karena itu, istilah Cia-Cia dalam sejumlah kajian dapat digunakan sebagai istilah kebahasaan maupun identitas kelompok masyarakat.

Asal-usul nama "Laporo" mempunyai beberapa versi. Salah satu penelitian mencatat bahwa nama Laporo dikaitkan dengan ungkapan "mia momaporona yincana", yang dimaknai sebagai "orang yang bersedih hatinya". Ada pula cerita rakyat yang menghubungkan nama Laporo dengan ungkapan "Sangia Goa a laporo yi raja", yang secara umum dikaitkan dengan seseorang yang melaporkan suatu temuan kepada raja atau Sultan Buton. Kedua kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat sehingga tidak sebaiknya dianggap sebagai satu-satunya versi sejarah yang pasti.

Sejumlah kajian juga menghubungkan sejarah masyarakat Cia-Cia Laporo dengan lingkungan Kesultanan Buton. Salah satu sumber kebudayaan daerah menyebut Ciacia Laporo sebagai salah satu wilayah kadhie dalam Kesultanan Buton. Istilah kadhie dalam sumber tersebut berkaitan dengan hak atas kepemilikan tanah di wilayah bharata, khususnya bagi masyarakat biasa atau papara.

Dengan demikian, sejarah Laporo tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Pulau Buton dan perkembangan masyarakat di lingkungan Kesultanan Buton.

Perkembangan dan Perpindahan Masyarakat Laporo

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah modern masyarakat Cia-Cia Laporo adalah perpindahan sebagian masyarakat menuju wilayah yang kemudian dikenal sebagai Karya Baru.

Penelitian tentang masyarakat Cia-Cia Laporo mencatat bahwa pada tahun 1968 sebagian masyarakat berpindah dari wilayah pegunungan menuju kawasan Karya Baru. Perpindahan tersebut berlangsung secara bertahap. Pada tahap awal, kaum laki-laki membuka lahan dan menanam berbagai tanaman. Kawasan tersebut pada awalnya lebih berfungsi sebagai daerah perkebunan. Sekitar dua tahun kemudian, perempuan dan anak-anak ikut berpindah sehingga kawasan tersebut berkembang menjadi tempat tinggal masyarakat.

Perkembangan permukiman tersebut kemudian membentuk komunitas yang lebih menetap. Karya Baru selanjutnya menjadi salah satu wilayah penting masyarakat Cia-Cia Laporo di Kota Baubau.

Perpindahan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Laporo mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Walaupun sebagian masyarakat berpindah tempat tinggal, hubungan dengan adat, bahasa, dan tanah leluhur tetap menjadi bagian penting dari identitas mereka.

Wilayah Kehidupan Masyarakat Laporo

Masyarakat Cia-Cia Laporo terdapat di beberapa wilayah Pulau Buton. Salah satu komunitas yang banyak dibahas dalam penelitian adalah masyarakat Laporo di wilayah Karya Baru, Kecamatan Sorawolio, Kota Baubau. Penelitian mengenai identitas Cia-Cia Laporo juga menunjukkan adanya masyarakat yang mempertahankan bahasa dan tradisinya melalui kehidupan keluarga, kegiatan masyarakat, serta pendidikan.

Selain di Kota Baubau, masyarakat Cia-Cia Laporo juga terdapat di wilayah Kabupaten Buton. Salah satu penelitian mengenai tradisi pikaria'a dilakukan pada masyarakat Cia-Cia Laporo di Kelurahan Kombeli, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton.

Lingkungan alam mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat Laporo. Kehidupan berkebun dan pemanfaatan lingkungan menjadi bagian dari sejarah perkembangan permukiman mereka. Tradisi syukuran terhadap hasil kebun juga masih menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat.

Bahasa Cia-Cia Laporo

Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang sangat penting bagi masyarakat Laporo. Bahasa Cia-Cia Laporo digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi salah satu penanda identitas masyarakat.

Penelitian mengenai bahasa Cia-Cia Laporo menyebutkan bahwa bahasa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas etnis. Pemeliharaan bahasa dilakukan melalui keluarga, lingkungan masyarakat, pendidikan, serta kegiatan budaya.

Bahasa Cia-Cia sendiri telah lama menjadi objek penelitian kebahasaan. Kajian mengenai struktur bahasa Cia-Cia telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang menunjukkan bahwa bahasa Cia-Cia merupakan salah satu bahasa yang terdapat di Pulau Buton.

Salah satu hal yang membuat bahasa Cia-Cia terkenal secara luas adalah penggunaan aksara yang berasal dari Hangeul Korea dalam upaya penulisan dan pengajaran bahasa Cia-Cia. Penggunaan sistem tulisan tersebut mulai diperkenalkan pada masyarakat Cia-Cia pada sekitar tahun 2009. Tujuannya antara lain berkaitan dengan upaya memberikan sistem penulisan bagi bahasa lokal tersebut dan mendukung pelestarian bahasa.

Namun, penggunaan Hangeul tidak mengubah identitas masyarakat menjadi masyarakat Korea. Bahasa, sejarah, adat, dan identitas masyarakat tetap merupakan bagian dari kebudayaan Cia-Cia Laporo.

Adat Istiadat dan Tradisi

Masyarakat Cia-Cia Laporo mempunyai berbagai adat dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi yang terkenal adalah pikaria'a.

Pikaria'a merupakan tradisi pingitan bagi perempuan yang memasuki masa dewasa. Penelitian mengenai masyarakat Cia-Cia Laporo di Kelurahan Kombeli menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun yang berkaitan dengan perubahan status seorang gadis menuju kedewasaan. Tradisi tersebut juga memberikan pembinaan mengenai etika, akhlak, perilaku, serta kehidupan bermasyarakat.

Dalam pelaksanaannya, pikaria'a memiliki beberapa tahapan, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga penutupan. Dalam bentuk tradisionalnya, peserta menjalani masa pingitan di dalam kelambu selama beberapa hari sambil menerima nasihat dan mengikuti berbagai kegiatan adat. Dalam perkembangan zaman, lama pelaksanaannya dapat mengalami perubahan, tetapi nilai dan tahapan utama tradisi tetap dipertahankan.

Selain pikaria'a, masyarakat Laporo juga mengenal norma adat yang disebut pomali, yaitu pantangan atau larangan yang menjadi pedoman perilaku masyarakat. Nilai kebersamaan dan gotong royong juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Cia-Cia Laporo.

Baca juga :

Kesenian dan Tradisi Lisan Suku Cia-Cia Laporo

Kebudayaan Laporo juga terlihat dalam berbagai bentuk sastra dan kesenian lisan. Salah satu contohnya adalah lagu Bhatanda Ilila, yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cia-Cia Laporo di Karya Baru. Penelitian mengenai lagu tersebut menunjukkan bahwa teks atau syairnya mengandung makna budaya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat.

Tradisi lisan mempunyai peranan penting karena sebagian sejarah masyarakat Laporo disampaikan dari generasi tua kepada generasi muda melalui cerita, bahasa, nasihat, lagu, dan upacara adat. Oleh karena itu, pelestarian bahasa menjadi salah satu cara untuk menjaga sejarah dan kebudayaan masyarakat Laporo.

Kehidupan Sosial Masyarakat Laporo

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Cia-Cia Laporo menjunjung tinggi kebersamaan dan kerja sama. Berbagai kegiatan masyarakat dilakukan dengan melibatkan anggota komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan sosial merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Laporo.

Salah satu falsafah yang dicatat dalam kajian kebudayaan masyarakat Ciacia Laporo adalah "tadhe atadhea, hogha ahoghaa", yang diterjemahkan sebagai "berdiri sama tinggi, duduk sama rendah". Falsafah tersebut menggambarkan nilai kesetaraan, kebersamaan, kesantunan, dan kepentingan bersama dalam kehidupan masyarakat.

Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam hubungan antara orang tua dan anak, hubungan antartetangga, serta hubungan antara masyarakat dengan lingkungan sekitarnya.

Upaya Pelestarian Budaya Suku Cia-Cia Laporo

Perubahan zaman memberikan tantangan bagi kelestarian bahasa dan kebudayaan daerah. Penggunaan bahasa Indonesia dalam pendidikan dan kehidupan modern dapat mengurangi penggunaan bahasa daerah apabila tidak diimbangi dengan upaya pelestarian.

Masyarakat Cia-Cia Laporo melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan identitasnya. Bahasa tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada generasi muda. Kegiatan adat dan tradisi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. Penelitian mengenai bahasa Cia-Cia Laporo menunjukkan bahwa keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah mempunyai peranan dalam pemeliharaan bahasa tersebut.

Penggunaan aksara Hangeul sebagai sistem penulisan bahasa Cia-Cia sejak sekitar 2009 juga menjadi salah satu bagian dari sejarah modern upaya pelestarian bahasa.

Pelestarian kebudayaan tidak hanya berarti mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti gotong royong, kesopanan, penghormatan kepada orang tua, kebersamaan, dan rasa syukur.

Kesimpulan

Suku atau masyarakat Cia-Cia Laporo merupakan salah satu kelompok masyarakat yang mempunyai sejarah dan kebudayaan penting di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sejarah masyarakat Laporo berkaitan erat dengan perkembangan masyarakat Pulau Buton dan lingkungan Kesultanan Buton.

Asal-usul nama Laporo mempunyai beberapa versi yang berkembang dalam tradisi lisan. Salah satunya menghubungkan nama Laporo dengan ungkapan mia momaporona yincana, sedangkan cerita lainnya menghubungkannya dengan kisah Sangia Goa yang melaporkan suatu temuan kepada raja atau Sultan Buton. Karena berasal dari tradisi lisan, cerita tersebut merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat dan memiliki beberapa versi.

Dalam sejarah modern, salah satu peristiwa penting adalah perpindahan sebagian masyarakat Laporo menuju Karya Baru pada tahun 1968. Perpindahan dilakukan secara bertahap dan kemudian membentuk permukiman masyarakat yang berkembang hingga sekarang.

Masyarakat Laporo memiliki bahasa Cia-Cia Laporo, adat istiadat, tradisi pikaria'a, kesenian, tradisi lisan, serta nilai-nilai sosial seperti gotong royong dan kebersamaan. Bahasa menjadi salah satu unsur terpenting dalam mempertahankan identitas masyarakat. Upaya pelestarian bahasa dan budaya dilakukan melalui keluarga, pendidikan, kegiatan adat, dan berbagai kegiatan masyarakat.

Oleh karena itu, kebudayaan Cia-Cia Laporo perlu terus dipelajari dan dilestarikan oleh generasi muda. Mengenal sejarah dan budaya daerah bukan hanya untuk mengetahui masa lalu, tetapi juga untuk menjaga identitas masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Generasi muda di Sulawesi Tenggara diharapkan dapat mengenal dan menghargai kebudayaan masyarakat Cia-Cia Laporo. Bahasa daerah, cerita rakyat, adat istiadat, kesenian, dan tradisi masyarakat perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sekolah dan masyarakat juga dapat berperan dalam memperkenalkan sejarah serta kebudayaan lokal melalui pembelajaran, kegiatan budaya, dokumentasi, dan penelitian. Dengan demikian, kebudayaan Cia-Cia Laporo dapat tetap hidup dan berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Sumber :

Laronga, Hasrinando Saputra. 2022. Bahasa sebagai Sistem Budaya: Sejarah, Fungsi dan Pemeliharaan Bahasa Cia-Cia Laporo di Pulau Buton. Skripsi. Universitas Tadulako.

Laronga, Hasrinando Saputra, Citra Dewi, dan Hapsa. 2021. "Confirming the Identity of the Cia-Cia Laporo Community Through Local Languages on Buton Island Southeast Sulawesi." Kinesik, Vol. 8 No. 3.

Awat, Rustam. 2026. "Tradisi Pikaria’a Masyarakat Cia-Cia Laporo Kelurahan Kombeli, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton." Jurnal Pendidikan Sejarah.

Abdullah, Mustafa, Syahruddin Kaseng, Said Mursalin, Kulla Lagousi, dan Zalili Sailan. 1991. Struktur Bahasa Cia-Cia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kim, Hyojin. The Cia-Cia Laporo Living on Buton Island. Kyoto University/CSEAS.

loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Cia-Cia Laporo Di Sulawesi Tenggara Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Cia-Cia Laporo Di Sulawesi Tenggara Sebagai sumbernya

0 Response to "Sejarah Suku Cia-Cia Laporo Di Sulawesi Tenggara"

Post a Comment

Sejarah Suku Lainnya