Sejarah Dan Kebudayaan Suku Gayo Luwes

Suku Dunia ~ Suku Gayo Luwes, adalah salah satu sub kelompok orang Gayo, yang wilayah asalnya berada dalam empat wilayah kecamatan, dalam Kabupaten Aceh Tenggara di Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Keempat kecamatan itu adalah Kecamatan Belang Kejeren, Kuta Panjang, Rikit dan Tetangan. Pada jaman pemerintahan kolonial Belanda daerah ini berstatus sebagai sebuah Onerdistrict Gajoloes. Pada jaman kemerdekaan wilayah ini pernah berstatus sebagai sebuah kewedanaan, yaitu Kewedanaan Belang Kejeren, sebagai bagian dari Kabupaten Aceh Tengah, dengan ibu kota Takengon. Sebagian besar wilayah Gayo Luwes ini diliputi hutan primer dan hutan pinus mercus. 


Wilayah pemukiman orang Gayo Luwes ini merupakan salah satu wilayah yang terkurung di tengah-tengah wilayah Propinsi Aceh. Prasarana perhubungan yang menghubungkannya dengan dunia luar pernah berkondisi sangat buruk dalam jangka waktu yang lama. Salah satu jalur jalan menghubungkan Beleng Kejeren dengan kota Tekangon di Aceh Tengah, sepanjang 163 Km. Jalur ini dirintis pada jaman Jepang dengan kerja paksa, kekalahan Jepang dan kemudian jalan itu menjadi hutan kembali. Pada masa terakhir ada rencana akan meneruskan pembukaan jalan itu, Jalur jalan lain adalah yang menghubungkan Belangkejeren dengan Kutacane, ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara dengan jarak 108 Km.

Sampai tahun 1974 jalan ini hanya dapat dilalui dengan kendaraan jenis jeep. Jalan itu merupakan satu-satunnya jalur untuk membawa bermacam-macam kebutuhan yang berasal dari luar daerah. Pada masa kodisi jalan itu buruk, jalan yang panjangnya hanya 100 Km itu konon pernah harus ditempuh dalam waktu satu bulan. Namun kini jalan tersebut sudah diaspal dengan baik, meskipun dengan ukuran yang sempit berliku-liku tetapi jarang yang dalam menyusuri sisi sungai di sekitar kawasan Gunung Losser.

Jumlah orang Gayo Luwes menurut data sensus penduduk tahun 1930 adalah sebesar 22.075 jiwa, diantara 50.076 jiwa keseluruhan jumlah orang Gayo. Dan sensus berikutnya tidak lagi diketahui berapa jumlah mereka. Jumlah penduduk keempat kecamatan pada tahun 1971 ialah sebesar 36.038 jiwa, yang sebagian besar adalah orang Gayo Luwes. Sehubungan dengan jumlah penduduk ini kita teringat korban jiwa yang jatuh atas kebengisan Van Dealen di Gayo Luwes pada perang tahun 1904. Korban jiwa itu dapat diketahui dari catatan J.C.I Kempees De tochi can Daalen doorde Gayo.Alas en Batak Landen (1905). Kempees mencatat korban-korban yang jatuh paling tidak pada tujuh buah benteng di tanah Gayo Luwes itu.

Pada satu benteng terkapar 200 jiwa sampai 300-an jiwa pejuang Gayo. Dalam tempo sekejap pergolakan itu menghabiskan ribuan jiwa penduduk. Kesenian Saman Orang Gayo kelompok ini mempunyai macam-macam jenis kesenian, antara lain adalah saman didong, bines dan lain-lain. Saman Gayo adalah salah satu kesenian tradisional Gayo Luwes yang pada masa terakhir sudah sangat terkenal di Indonesia, bahkan di luar negeri, seperti di Amerika Serikat.

Berbagai pendapat menyatakan bahwa Saman Gayo berasal dari sebuah kesenian tradisional lainnya yang bernama "Pok Ane". Kesenian Pok Ane dilakukan dengan menepuk-nepuk tangan dan paha sambil bernyanyi tanpa instrumen. Pada suatu masa seorang mubalig bernama Tengku Syah Saman memanfaatkan kesenian Pok Ane menjadi sarana dakwah agama Islam. Syech Saman yang beraliran tarekat itu menyebarkan ajaran agama Islam dengan berupaya menanamkan tauhid dan yang berhubungan dengan ketakwaan kepada Allah Swt. Upaya itu dilakukannya antara lain dengan kesenian yang diolehnya dari Pok Ane tadi. Para pelakunya duduk bertepuk tangan, kepala digerakkan ke kanan-ke kiri, dalam bentuk ratib berulang-ulang menyebut nama Allah, salawat dan sebagainya yang semakin lama semakin cepat. Karena pengaruh Syech Saman, kesenian Pok Ane kemudian berubah nama menjadi kesenian saman. Aliran tarekat tadi yang biasanya dilakukan oleh orang-orang tua itu kemudian hilang. Akhirnya muncul saman dalam bentuk lain yang umumnya dilakukan oleh anak-anak muda. 

Saman ini merupakan perpaduan dari seni tari, seni suara dan seni sastra. Isinya bukan lagi sepenuhnya tentang agama, tetapi juga menyangkut hal-hal lain dalam kehidupan sehari-hari. Saman menjadi kesenian yang dipertandingkan antara dua kelompok masing-masing kelompok itu biasanya berasal dari kampung yang berbeda. Satu kelompok terdiri dari 15- 30 orang laki-laki, yang umumnya orang-orang muda. Pada masa lalu pertandingan itu biasa berlangsung berhari-hari siang dan malam, karena itu diperlukan ketahanan fisik para pemainnya ada yang muntah darah, yang mungkin karena terlalu lelah. Pertandingan semacam itu disebut "julu saman". Dalam pertandingan saman, satu kelompok berhadapan dengan lawan tandingnya dengan jarak sekitar tiga meter. Anggota masing-masing kelompok berada dalam satu saf dengan duduk berlutut dalam posisi rapat.

Dalam posisi demikian para pemain melakukan bermacam-macam variasi gerak. Anggota dari setiap kelompok terbagi dalam beberapa peranan. Seseorang yang berada di bagian tengah-tengah ceh yang berperan memimpin kelompoknya dalam tari (buga) nyanyian (ling) dan lain-lain. Pemain yang ada dikanan dan kiri ceh disebut "pengopak". Kerjanya sebagai pembantu utama ceh tadi Dwi ewang yang masing-masing berada pada ujung saf disebut jejeran. Keduanya sebagai penyangga agar saf itu tidak mabruk atau kacau bia ada gerakan-gerakan yang membahana. Selebihnya adalah pemain yang berada di antara pengapit dan penyangga disebut penyepit. Penyepit dengan jumlah terbanyak berperan mengikuti berbagai gerak bersama (laen) dan nyanyian bersama (sam). Sistem bertanding kesenian ini berpedoman kepada aturan-aturan tertentu. Satu kelompok (A) memulai permainan dengan gerak-gerak yang khas hasil kreasi sendiri dengan nyanyian dan lirik-lirik tertentu. Kelompok A yang menampilkan hasil kreasinya ini disebut sebagai pihak "memangka". Kelompok lawan tanding (B) harus berusaha mengikuti dan dapat meniru gerak lawan (A) tadi. Kelompok B itu disebut sebagai pihak "ngging". Kelompok A dinyatakan kalah, apabila gerak-gerak tarinya tadi dapat diikuti atau ditiru oleh kelimpok B, serta lirik kelompok B juga ternyata lebih unggul. Itulah sebabnya setiap kelompok selalu merahasiakan tempat dan waktu latihannya.

Karena itu pula mereka selalu berusaha menampilkan karya-karya baru, unik dan indah. Gerak-gerak dalam kesenian saman dapat digolongkan dalam beberapa bentuk, misalnya kertek, sepak jarang, tepokdele kirep, lingang, lengek, girik guncang, surang-saring, gintes dll. Guru-guru saman menciptakan gerak tari tertentu dengan mengkombinasikan bentuk-bentuk garak tersebut diatas. Gerak-gerak tari itu tentu saja disesuaikan dengan nyanyiannya. Naynyiannya sendiri ada yang dibawakan oleh satu orang atau bersama-sama, misalnya sek, jangin. Kedua adalah bagian ulu ni lagu dengan gerak-gerak pendahuluan yang khidmat dengan diiringi nyanyian yang sudah meninggi. Berikutnya dilanjutkan dengan bagian anak ni lagu dengan menampilkan gerak-gerak yang lebih bersemangat, unik, dengan badan berselang-selang (surang-saring) yang tampak indah.


Kemudian diteruskan dengan lagu-lagu yang menampilkan gerak-gerak tangan menghentak-hentak dada, diselingi dengan tepukan tangan, gelengan kepala, gerakan tubuh ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan dan sebagainya. Gerakan itu berganti-ganti antara gerakan yang lambat dan gerakan yang cepat bergelora. Akhirnya dalam bagian penutup ditembangkan lirik-lirik yang mengenaskan. Mereka minta maaf kepada orang-orang tua, orang-orang patut dan semua penonton. Permintaan maaf itu sehubungan dengan jika ada tingkah polah yang tidak berkenan atau lirik-lirik yang dinyanyikan yang tidak senonoh. Para pemain saman memakai beberapa unsur kostum. Pemain mengikat kepala dengan kain berwarna hitam atau warna lain yang disebut "bulang teleng" atau "bulang kerawang" dengan diberi hiasan sebagai mahkota yang dinamakan tajuk.

Pada leher dikenakan kalung rantai (renggiep). Baju seragamnya disebut "baju pokok," berlengan pendek dengan ukuran yang pas di badan agar tidak mengganggu berbagai gerakan yang rumit tadi. Baju itu berwarna dasar hitam dengan motif hiasan warna kuning emas. Motif-motif hiasannya ada yang disebut leladu, gegaping, rino, kerawang dan lain-lain. Unsur pakaian lain adalah celana panjang warna hitam, dan diluarnya dikenakan kain sarung (pawak) sehingga tampak lebih sopan. Kadang-kadang mereka memakai cincin (sensim ketep) dan gelang (topong).

Pada masa lalu saman dipagelarkan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad Saw, pada hari raya Idul Fitri, perkawinan, sunat rasul, penyambutan tamu-tamu penting dan lain-lain. Sejak tahun 1970-an saman mulai dikenal luas di luar daerah Aceh. Semakin lama kesenian ini semakin populer dan semakin sering tampil dalam berbagai upacara kenegaraan di Jakarta.

Pada masa belakangan kesenian saman mendapat julukan sebagai "tari tangan seribu". Dalam tahun 1990 saman terpilih sebagai salah satu kesenian daerah Indonesia yang dipagelarkan di berbagai kota di Amerika Serikat dalam rangka diplomasi Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) untuk masyarakat negara tersebut khususnya dan dunia internasional.

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa
 
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Dan Kebudayaan Suku Gayo Luwes Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Dan Kebudayaan Suku Gayo Luwes Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya