Sejarah Dan Kebudayaan Suku Deli

Suku Dunia ~ Deli, Melayu merupakan salah satu sub kelompok suku bangsa Melayu Sumatera Timur yang termasuk kelompok asal di Sumatera Utara. Sebagian Melayu Deli ditujukan kepada masyarakat Melayu yang berdiam di Kabupaten Deli Serdang dan di sekitar kota madya Medan (daerah Deli) yang terletak tidak jauh dari pantai timur Sumatera. Di Kabupaten Deli Serdang yang luasnya 6.064 Km persegi mereka tersebut di 33 kecamatan. Pada tahun 1984 jumlah penduduk kampung Melayu Deli hidup bersama dengan berbagai suku bangsa lainnya, misalnya oarang Batak Karo, Toba, Aceh, Minangkabau dsb. Di kota madya Medan tempat tinggal mereka kini meliputi kecamatan Medan Deli, Medan Barat, Medan Labuhan, Medan Denai, Medan Timur, Medan Johor, Medan Sunggal, Medan Kota, Medan Tuntungan, Medan Baru, Medan Belawan. Penduduk wilayah kota madya Medan di 11 Kecamatan pada tahun 1990 adalah 1.245.725 jiwa. 


Pada beberapa kecamatan orang Melayu Deli merupakan penduduk mayoritas diantaranya di Kecamatan Medan Deli sebanyak 20% dari 73.752 jiwa Kecamatan Medan Labuhan 40% dari 67.435 jiwa, Kecamatan Medan Belawan 40% dari 64.690 jiwa.

Baca juga :
Ketika Inggris pertama kali masuk ke daerah ini pada tahun 1822, diperkirakan penduduk asli yang kini dikenal sebagai orang Melayu berjumlah 7.000 jiwa. Pada masa itu, sistem pemerintahan di wilayah itu dikuasai atas wilayah (negeri) tertentu. Perpecahan dikalangan berbagai kesultanan terjadi ketika Belanda mulai masuk ke daerah ini. Salah satu kerajaan yang masih ada peninggalannya sampai saat ini adalah Kerajaan Deli dengan Istana Maimoonnya yang terletak di kota Medan.

Keadaan Geografis dan Mata Pencaharian Suku Deli

Pada masa itu daerah Deli dikenal dengan kesuburannya. Hasil-hasil buminya meliputi lada, cengkeh, tembakau, dan tanaman lainnya. Suku bangsa lain yang sejak lama telah mempunyai hubungan dengan orang Melayu adalah orang Karo, yang wilayah tempat tinggalnya paling dekat dengan Deli. Keahlian orang Karo dalam menanam tembakau mengundang bangsa Belanda untuk membuka perkebunan tembakau secara besar-besaran di daerah ini.

Pembukaan perkebunan tembakau ini akhirnya menyebabkan semakin banyaknya pendatang suku bangsa lain ke daerah ini, di  antaranya orang Aceh melalui perbatasan utara, orang Bugis melalui pantai Timur Sumatera orang Minangkabau dari arah selatan, dan orang Jawa yang sengaja didatangkan sebagai buruh perkebunan. Bahkan untuk memenuhi tenaga kerja, pemerintah Belanda juga mendatangkan pekerja orang Tionghoa dari Semenanjung (Singapura) dan orang India. Berbagai suku bangsa pendatang ini kemudian menetap di wilayah ini, sehingga penduduk Melayu asli semakin terdesak dan mulai menyingkir ke daerah pinggiran.

Sesudah masa kemerdekaan kota Medan berkembang menjadi pesat perdagangan hasil bumi Sumatera Utara, sedangkan kaum pendatang menjadi lebih besar jumlahnya dibandingkan orang Melayu sebagai penduduk asli. Bahasa seperti halnya bahasa orang Melayu lainnya, bahasa Melayu Deli mempunyai hubungan erat dengan bahasa melayu Malaysia. Bahasa Melayu ini memiliki sumbangan besar bagi perkembangan Bahasa Indonesia. Perbedaan yang dapat dilihat diantara berbagai orang Melayu yang terpisah-pisah berdasarkan wilayah tempat tinggalnya tersebut adalah dalam hal dialek bahasa.

Dialek bahasa yang berkembang di kalangan orang Melayu Deli di pengaruhi oleh dialek dari bahasa suku bangsa lain yang berdiam di sekitar mereka. Salah satu ciri yang mencolok pada dialek Melayu Deli adalah, penggunaan huruf e. Walaupun pengucapannya berbeda secara garis besar arti katanya tidak berbeda dengan bahasa melayu dialek lainnya. Pada masa lalu di kalangan masyarakat kesultanan Deli terdapat semacam pembagian antara bahasa di kalangan Ningrat keturunan Sultan dan bahasa rakyat biasa. Pembedaan ini juga terlihat dalam bentuk-bentuk kesenian yang terdapat dikalangan penghuni istana dengan bentuk kesenian rakyat biasa. Kini pemakaian bahasa Melayu Deli di kalangan generasi muda mulai menghilang. Orang Melayu Deli, yang berdiam di daerah pinggiran kota sebagian besar mengembangkan mata pencaharian sebagai petani dan mengusahakan perkebunan buah-buahan. Yang tinggal di daerah kota umumnya menjadi pegawai negeri dan mengembangkan industri kecil. Masyarakat yang tinggal di daerah pantai sebagian besar menjadi nelayan.

Pola Perkampungan Suku Deli

Pada masa lalu pola perkampungan orang Melayu Deli, seperti halnya dengan orang Melayu lainnya, disesuaikan dengan alur sungai atau jalan yang sudah ada sebelumnya. Antara pekarangan satu rumah dan rumah lain tidak dibatasi pagar. Hal ini berkaitan dengan keyakinan bahwa tanah yang ada adalah milik masyarakat secara bersama-sama, sehingga tidak dapat diwariskan atau diperjual belikan hingga sekarang desa-desa kediaman orang Melayu Deli sering terkena banjir luapan sungai-sungai yang mengalir di daerah ini, misalnya sungai Deli, sungai Ular, dan sungai Padang.

Kepemimpinan tradisional dalam kampung berada di tangan seorang penghulu, seorang imam, seorang bilal dan seorang khatib. Para pemimpin ini terutama terdiri atas orang-orang yang ahli dalam agama Islam. Keislaman mereka juga ditunjukkan dengan terdapatnya mesjid atau surau di setiap desa. Ciri khas lainnya dalam sebuah desa orang Melayu di masa lalu adalah tersedianya gelanggang olahraga, dua buah tempat pemandian yang masing-masing dikhususkan untuk pria dan wanita, serta sebuah tanah wakaf umum. Selain itu, dalam sebuah perkampungan biasanya juga terdapat sebuah balai tempat bermusyawarah bagi orang-orang tua. Balai ini juga berfungsi sebagai tempat tidur bagi anak-anak muda.

Rumah-rumah pada masa lalu umumnya didirikan di atas tiang dan mempunyai kolong. Tujuannya selain menyelamatkan diri dari bahaya banjir dan serangan binatang buas, adalah agar penghuninya terhindar dari kelembaban udara. Dalam membangun rumah orang Melayu mengenal aturan-aturan tersendiri, MIsalnya rumah di dirikan menghadap ke arah matahari agar mendapat cukup udara dan sinar matahari serta mengundang banyak rejeki. Hiasan atau ukiran yang terdapat pada bagian rumah biasanya bermotif bunga seroja.

Rumah orang Melayu pada umumnya tidak memiliki banyak kamar, karena biasanya satu rumah hanya di diami oleh satu keluarga batih. Setiap ruangan memilik fungsi tersendiri. Bagian serambi depan merupakan ruangan untuk menerima tamu, bagian serambi tengah yang dibuat lebih tinggi berfungsi sebagai tempat menerima tamu resmi atau yang disegani, tempat makan bersama, dan tempat tidur bersama, bagian atas yang disebut jura merupakan tempat berdiamnya anak gadis (dara), bagian serambi belakang merupakan tempat menerima tamu para wanita dan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Sekarang rumah-rumah bertiang khas orang melayu sudah jarang terdapat di daerah Deli.

Agama dan Kepercayaan Asli Suku Deli

Orang Melayu adalah pemeluk agama Islam. Boleh dikatakan hanya agama Islamlah yang diakui oleh orang Melayu. Oleh sebab itu di kalangan masyarakat sering dikatakan bahwa apabila seseorang telah memasuki agama Islam, orang tersebut telah menjadi orang Melayu. Sebelum masuknya agama Islam ke daerah ini, kepercayaan orang Melayu bersifat animisme. Mereka meyakini adanya dewa atau jin yang tidak berasal dari manusia. Karena dewa, jin dan alam gaib dianggap dapat mempengaruhi kehidupan manusia, mereka harus dipuja, antara lain melalui upacara-upacara tertentu.

Upacara-upacara tradisional yang dilakukan berkaitan dengan lingkaran hidup seseorang. Upacara-upacara tersebut meliputi upacara dari masa yang mengandung dan melahirkan sampai upacara perkawinan dan kamatian. Tetapi kini orang Melayu Deli sudah jarang yang melaksanakan berbagai upacara tersebut sesuai dengan aturan-aturan seperti masa silam. Apalagi kebanyakan orang Melayu Deli berdiam di sekitar wilayah perkotaan yang sudah banyak mendapat pengaruh kebudayaan luar lainnya.

Sistem Kekerabatan dan Sistem Pelapisan Sosial Suku Deli

Garis keturunan pada masyarakat Melayu Deli umumnya diperhitungkan secara bilateral, tetapi pada golongan tertentu lebih cenderung bersifat patrilineal, yaitu melalui garis laki-laki. Penarikan garis keturunan melalui laki-laki terutama kelihatan pada golongan bangsawan yang masih berusaha mempertahankan tradisi turun-temurunnya. Adat menetap sesudah nikah umumnya di kediaman keluarga pihak istri (uksorilokal) sampai lahirnya anak pertama, baru kemudian menetap di kediaman yang baru (neolokal). Tetapi masyarakat Melayu Deli kini lebih bebas menentukan tempat tinggal sesudah menikah.

Orang Melayu juga mengenal pengelompokkan kerabat gabungan keluarga luas (klen kecil) yang merasakan dirinya berasal dari keturunan satu nenek moyang. Pada masyarakat Melayu Deli anggota kelompok semacam ini biasanya merasa terikat melalui garis keturunan laki-laki (patrileneal). Mereka juga mengenal bentuk kekerabatan lain yang terjadi akibat adanya perkawinan. Kelompok kekerabatan yang lebih luas sifatnya (kindred) biasanya sudah tidak jelas lagi batas-batasnya karena sudah terlalu luas. Kelompok kerabat semacam ini dapat mencakup saudara sepupu ayah atau ibu, saudara istri, bahkan kaum kerabat dari satu tingkat di atas seseorang. Selain tingkatan sosial yang dibedakan berdasarkan garis keturunan, di dalam masyarakat Melayu Deli kini dikenal pula sistem pelapisan sosial berdasarkan hal-hal lain, seperti jabatan, keagamaan, dan pendidikan.

Pada masa lalu, keturunan bangsawan merupakan golongan yang paling atas dan paling berkuasa. Golongan bangsawan yang sangat dihormati dalam masyarakat biasanya menyandang gelar-gelar kehormatan, misalnya, raja, sultan, tengku, wan dsb. Walaupun gelar kebangsawanan masih dipakai oleh para keturunannya masyarakat Melayu, sekarang umumnya juga mempertimbangkan faktor-faktor lain dalam menentukan status seseorang. Dengan demikian, seseorang yang pada masa lalu di golongkan sebagai "orang kebanyakkan., kini dapat pula dianggap tinggi statusnya dalam masyarakat karena berhasil dalam bidang pendidikan.

Bentuk-bentuk Kesenian Suku Deli

Kesenian yang berkembang di kalangan orang Melayu Deli umumnya dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Islam. Sebagian besar bentuk keseniannya memiliki kesamaan dengan kesenian orang Melayu Malaysia. Jenis-jenis kesenian orang Melayu, diantaranya adalah marhabban, kasidah, gambus, joget, dan ronggeng, serta berbagai tarian, seperti tari Serampang Dua belas, Tari Tudung Periuk dsb.

Salah satu bentuk kesenian yang terkenal dari daerah ini adalah Ronggeng Deli, yaitu pertunjukkan tari dan nyanyi dengan melantunkan bait-bait pantun Melayu. Musik pengiringnya adalah gendang, biola, dan akordion. Tetapi sekarang Ronggeng Deli sudah termasuk bentuk kesenian yang langkah dan jarang ditemui di daerah Deli.

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa
 
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Dan Kebudayaan Suku Deli Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Dan Kebudayaan Suku Deli Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya