Sejarah Suku Ende

Suku Dunia ~ Ende adalah suku bangsa yang berdiam di bagian tengah pulau Flores, di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Wilayah asal suku bangsa ini adalah yang sekarang menjadi wilayah tiga kecamatan, yaitu wilayah Kecamatan Nangapanda, Ende, dan Ndona, dalam Kabupaten Ende. Wilayah asal orang Ende ini bertetangga dengan wilayah kediaman suku bangsa Negekeo di sebelah barat, dan bagian dengan wilayah kediaman suku bangsa Lio di sebelah Timur.


Lingkungan alam dari wilayah asal suku bangsa ini merupakan wilayah bergunung dan bukit berlekuk-lekuk tajam dan jarang ditemukan lahan basah. Dataran sempit terdapat di bagian selatan. Dari keseluruhan wilayah Kabupaten Ende sendiri hanya sekitar 5% yang berpotensi untuk dijadikan sawah, itu pun merupakan sawah tadah hujan. Namun belakangan ini telah direncanakan pembuatan bendungan-bendungan untuk pengairan sawah.

Pada tahun 1986 Kecamatan Nangapanda berpenduduk 28.494 jiwa, Kecamatan Ende: 18.589 jiwa, dan Kecamatan Ndona: 22.035 jiwa, sedangkan keseluruhan penduduk Kabupaten Ende adalah 199.059 jiwa. Jumlah orang Ende di tiga kecamatan tadi atau di Kabupaten Ende umumnya tidak dapat lagi diketahui secara pasti.

Masyarakat di daerah ini khususnya dan penduduk pulau Flores umumnya seringkali menghadapi masalah kekurangan bahan makanan. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan alam, sarana pertanian yang belum memadai, dan pengetahuan dalam menghadapi keadaan lingkungan semacam itu belum memadai. Dengan keadaan alam semacam itu, mereka banyak menanam tanaman singkong (manihat utilissima) yang sekaligus sebagai makanan pokok mereka secara turun temurun.

Makanan khas yang terbuat dari singkong itu bernama uwi ndota. Makanan khas ini dimakan dengan lauk ikan, misalnya ikan soa, iu, ikan terbang. Lauk ini dibuat dengan bumbu khusus berupa ramuan cabe, kunyit, serai, dan daun susu roa yang mengandung rasa asam. Sementara orang Ende yang makan nasi merasa belum puas kalau belum makan uwi ndota. Namun banyak sudah di antara mereka yang mengganti makanan tradisi ini dengan nasi, yang rupanya terkesan lebih bergengsi.

Pada periode belakangan, orang Ende tampak mulai menggalakkan tanaman singkong, produksi singkong Kabupaten Ende tahun 1989 sebanyak 101.507 ton. Selain itu, ada produksi jagung 29.972 ton, padi ladang 13.972 ton, dan padi sawah 12.539 ton. Dalam periode 1990-an, masyarakat daerah ini menggalakkan tanaman seperti kopi, kelapa, kemiri, cengkeh, jambu mete, kakao, vanili, dan telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Kebiasaan orang Ende sejak lalu memanfaatkan kemiri hanya untuk bahan penerangan dalam rumah di malam hari. Buah kemiri ditumbuk bersama kapas. Kapas itu dililitkan pada lidi dan disulutkan api yang berfungsi sebagai pelita. Kebutuhan satu malam sudah cukup dengan dua atau tiga biji buah kemiri. Pada masa itu buah kemiri yang cukup melimpah di daerah mereka itu tidak mempunyai arti ekonomis. Namun belakangan ini, buah kemiri telah mempunyai nilai ekonomi yang cukup membantu kehidupan mereka. Dalam tahun 1990 harga kemiri mencapai Rp 1.700 per kg di Ende. Kabupaten Ende menghasilkan sekitar 1.000 ton kemiri per tahun.

Dalam hal organisasi sosial tradisional, orang Ende mengenal sistem klen (pu'u) yang patrilineal, artinya anggota satu klen itu merasa berasal dari satu nenek moyang dengan menarik garis keturunan dari pihak laki-laki. Mereka juga mengamalkan adat eksogami klen, yang mengharuskan seseorang mencari pasangan keluar klennya sendiri. Sebuah klen dipimpin oleh seorang kepala klen yang disebut Roki Pu'u. Seorang kepala klen juga berstatus sebagai Kolu, yakni orang yang mempunyai hak menguasai tanah yang belum digarap dalam wilayah klennya. Hak ini diperolehnya meskipun ia merupakan kepala kelompok yang bersifat genealogis. Namun sekarang sistem klen pada masyarakat Ende sudah mulai rapuh.

Pada masa lalu masyarakat Ende mengenal tiga lapisan sosial. Lapisan atas adalah kaum bangsawan, yang di daerah pesisir di sebut Ata Nggaeh dan di daerah pedalaman disebut Mosa Rabi. Dua lapisan sosial lainnya adalah lapisan masyarakat biasa dan lapisan budak.

Sebagian besar (70%) orang Ende sekarang memeluk agama Katolik, selebihnya Islam, Protestan, meskipun kepercayaan lama masih juga tersisa. Mereka juga masih memiliki kesenian-kesenian tradisional seperti tari, seperti tari gawi, mursi, waewali. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Ende.

Sumber : Ensiklopedi Suku Bangsa Di Indonesia oleh M. Junus Melalatoa
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Ende Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Ende Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya