Sejarah Suku Melayu Langkat

Suku Dunia ~ Orang Melayu ini mendiami daerah sepanjang pesisir timur pulau Sumatera, mulai dari daerah Langkat di utara sampai ke Labuhan Batu di selatan. Dari daerah pantai sampai ke perbukitan dekat kaki Pegunungan Bukit Barisan. Mereka bermukim di sekitar Kotamadya Medan, Binjai, Tebingtinggi dan Tanjung Balai. Sebagian lagi di Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Asahan dan Labuhan Batu, di Provinsi Sumatera Utara. Untuk membedakan diri dengan kelompok suku bangsa melayu lain mereka lebih suka menyebut kelompoknya sebagai orang Melayu Deli atau Melayu Langkat. Jumlah populasinya sukar dihitung dengan pasti, hanya diperkirakan berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa lebih. Di daerah-daerah tersebut pemukiman mereka berbaur dengan suku-suku bangsa lain, seperti dengan orang Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Nias, Minangkabau, Aceh, Jawa dan lain-lain.


Sebagian besar masyarakat Melayu di daerah Langkat Hulu, yakin bahwa nenek moyang mereka berasal dari Tanah Karo. Karena sudah berasimilasi dalam jangka waktu lama, mereka mulai meninggalkan nama marga dan memeluk agama Islam, sehingga diterima sebagai orang Melayu.

Bahasa Suku Melayu Langkat

Bahasa mereka adalah bahasa Melayu seperti umumnya dikenal orang di sekitar pantai timur Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Padan zaman dulu mereka pernah mendirikan beberapa kerajaan seperti Langkat, Aru, Deli Tua dan Deli Baru, yaitu kerajaan terakhir yang lenyap sekitar setengah abad yang lalu. Orang Melayu Langkat menggunakan bahasa Melayu dialek Langkat yang dicirikan dengan pemakaian huruf e pada akhir kata. Selain itu, irama (nada) dalam cara berbicaranya juga memiliki ciri khas yang berbeda dengan bahasa Melayu yang digunakan di daerah lain, terutama pada orang Melayu di bagian selatan yang lebih menekankan penggunaan huruf a. Tetapi kini penggunaan dialek khas tersebut sudah semakin berkurang pemakaiannya hanya ditemui pada orang-orang tua saja.

Mata Pencaharian Suku Melayu Langkat

Semenjak di daerah ini banyak dibuka kebun-kebun besar maka orang Melayu kebanyakan bekerja sebagai buruh perkebunan, atau mengolah sendiri kebun-kebun tanaman keras mereka dengan cara-cara yang sederhana. Perkebunan tanaman industri tersebut antara lain menghasilkan produk untuk diekspor, seperti tembakau, kopi, karet, cengkeh, dan kelapa sawit. Hanya sebagian kecil yang masih suka menanam padi di ladang-ladang, walau masih diselingi dengan menanam tembakau.

Masyarakat Suku Melayu Langkat

Dalam masyarakat Melayu ini keluarga intinya lebih senang mengembangkan rumah tangga sendiri. Walaupun pasangan baru umumnya tinggal di rumah orang tua pihak perempuan, namun mereka segera pindah tidak lama setelah lahir anak pertama. Rumah untuk keluarga baru ini biasanya didirikan dilingkungan pemukiman kelompok pihak suami. Mungkin karena itulah ada anggapan, bahwa garis keturunan yang mereka pakai adalah patrilineal. Hanya orang Melayu yang diam di daerah Batubara yang cenderung menjalankan prinsip keturunan matrilineal, mungkin karena kuatnya pengaruh Minangkabau di zaman dulu.


Kampung di daerah ini dikenal dengan nama lorong yang terdiri atas beberapa dusun yang letaknya mengelompok. Setiap dusun dikepalai oleh seorang Kepala Lorong. Di masa kesultanan Langkat dalam masyarakat ini dikenal pelapisan masyarakat yang membedakan keturunan bangsawan dan rakyat biasa. Golongan bangsawan adalah keturunan raja yang dikenali dengan gelar-gelar tertentu, seperti Tengku, Sultan, Datuk.

Sisa-sisa pelapisan sosial lama masih nampak dalam masyarakat ini. Misalnya masih ditemukan kelompok orang bangsawan yang berasal dari keturunan sultan-sultan dulu, mereka biasanya dipanggil dengan gelar Tengku Lalu, bekas pejabat kesultanan dan keturunannya biasanya dipanggil dengan gelar Datuk. Sedangkan keturunan tengku dan datuk dengan orang kebanyakan dipanggil dengan gelar Wan.

Agama Dan Kepercayaan Suku Melayu Langkat

Agama yang mereka anut adalah Islam. Akan tetapi kepercayaan pra-Islam masih dipercayai oleh sebagian warganya. Kepercayaan pra-Islam itu bersifat animisme, dinamisme dan hinduisme. Kepercayaan animisme mereka mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dalam dunia ini mempunyai jiwa atau roh yang serupa. Manusia selain mempunyai jiwa juga mempunyai semangat. Jiwa orang yang sudah mati, yaitu roh, mampu mempengaruhi kehidupan orang hidup, karena itu harus dipuja supaya tidak mengganggu. Selain adanya roh orang mati yang berkeliaran, di dunia ini ada pula makhluk-makhluk halus seperti dewa dan dewi, hantu, jin dan sebagainya. Dalam kepercayaan dinamismenya, mereka percaya bahwa selain manusia, benda-benda tertentu juga mempunyai semangat, seperti pohon kayu besar, batu-batu besar dan tanaman keras yang banyak bermanfaat bagi manusia, seperti pohon kelapa dan enau. kepercayaan mereka yang terpengaruh oleh agama Hindu meyakini adanya tokoh dewa tertinggi yang mereka sebut Dang Empu Hiang atau Batara Guru.

Referensi : Depdikbud 1977/1978
loading...
Kamu sedang membaca artikel tentang Sejarah Suku Melayu Langkat Silahkan baca artikel Suku Dunia Tentang | Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Sejarah Suku Melayu Langkat Sebagai sumbernya

Sejarah Suku Lainnya